“Zonk” di Banda Aceh

Masjid Baiturrahman Banda Aceh, Banda Aceh, Masjid di Banda Aceh

Sudah lama saya merencanakan untuk mengunjungi Sabang, akhirnya kesampaian juga di Bulan Maret tahun ini. Saya berangkat bersama 2 orang teman saya yang mau juga saya ajak berkunjung ke pulau paling barat Negara Indonesia. Di trip saya kali ini, saya memang berencana untuk menginap semalam di Kota Banda Aceh sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Sabang keesokan harinya.

Saya berangkat dari Batam, kebetulan maskapai singa udara baru saja membuka penerbangan langsung dari Batam ke Aceh. Perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam tersebut sama seperti perjalanan saya lainnya. Namun sesampainya di Kota Banda Aceh, ada saja yang bikin geleng-geleng kepala.

Berbekal dengan riset kecil-kecilan di google, saya tahu bahwa ada Damri yang melayani rute bandara-Masjid Raya Baiturrahman, namun karena hari itu hari Jumat, maka tidak ada bus Damri yang ngetem di sekitar bandara, beberapa petugas bandara pun tampak bingung ketika saya bertanya perihal Damri, nampaknya angkutan ini bukan merupakan angkutan popular di Banda Aceh.

Kedua teman saya berangkat dari Jakarta dan akan tiba di Banda Aceh 4 jam setelah saya sampai, jadilah saya menuju kota sendirian menggunakan taksi. Biaya taksi resmi dari Bandara ke Banda Aceh adalah Rp. 100.000, sedikit di atas nominal yang telah saya intip di google.

Penginapan di Banda Aceh kali itu sudah saya pesan di Booking.com, ternyata setelah saya sampai ke tempat tersebut, penginapan jauh di bawah ekspektasi saya. Letak penginapan memang sangat bagus, terletak sangat dekat dengan beberapa tempat wisata yang popular di Banda Aceh, saya hanya perlu berjalan kaki ke tempat-tempat wisata tersebut. Namun kamar yang diberikan berdebu, toilet sharingnya kotor bahkan toilet duduknya rusak sehingga ada “sisa” yang teronggok di dalamnya. Untuk tahu nama tempatnya, silakan mampir di channel tripadvisor saya.

Kesialan saya belum berhenti sampai disitu, setelah dari hotel dan disajikan makanan yang rasanya menjelang basi, saya pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam Masjid Raya dikarenakan tidak menggunakan rok. Sepertinya saya tidak membaca bagian jika masuk ke masjid wajib pakai rok ketika sedang survey.

Sampai ketika malam tiba, lubang yang ada di atap kamar saya ternyata merupakan “pintu masuk” untuk dua ekor tikus yang malam itu senang sekali bisa mampir ke kamar saya, dan yang tersisa saya tidak bisa tidur sama sekali malam itu. Sepertinya hoki saya di kota ini memang kurang bagus.

Traveling memang tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, terkadang ada saja kejadian “zonk” yang kadang bikin ilfeel berat, tetapi tentunya semua balik lagi ke diri kita apakah kejadian tersebut bisa menjadi sesuatu yang dinikmati atau malah merusak keseluruhan liburan kita. Pokoknya kalau menurut saya sih, selalu ada yang bisa dijadikan pelajaran.. hehehe…

 

-Rie-

 

Related posts

Leave a Comment