[Weekend Escape] Pulau Penyengat

Pulau Penyengat tanjung pinang, pulau penyengat, penyengat island kepri, kepualauan riau

Selamat Datang di Negeri Segantang Lada, begitu tulisan yang menyambut kami ketika kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Pinang. Ini kali kedua saya berkunjung ke Pulau Bintan ini, namun tujuan saya kali ini hanya dua, yaitu: Pulau Penyengat dan Wihara 500 Lohan. Tulisan mengenai wihara akan saya posting di lain kesempatan, artikel ini hanya membahas mengenai Pulau Penyengat saja.

Pulau Penyengat terletak tidak jauh dari Pulau Bintan, pulau kecil ini dapat dijangjau dengan menggunakan boat dari pelabuhan kecil yang terletak bersebelahan dengan Pelabuhan Sri Bintan Pura yang merupakan salah satu pelabuhan internasional di Pulau Bintan. Dengan ongkos sebesar 7000 rupiah saat itu, kami harus menunggu boat penuh atau hingga terisi 15 orang penumpang untuk menyebrang dari Pulau Bintan ke Pulau Penyengat demikian juga sebaliknya. Namun jika kamu memiliki budget berlebih dan tidak ingin menunggu lama, satu kali boat untuk menyeberang dibanderol dengan harga 350ribu rupiah. Perjalananan menyeberang ke Pulau Penyengat sangat singkat, kurang lebih sekitar 15 menit saja, boat akan berhenti sekali untuk menurunkan penumpang sebelum berhenti di pelabuhan akhir di Pulau Penyengat.

Deretan becak motor terparkir rapi di depan pelabuhan, kita dapat menyewa becak tersebut untuk berkeliling pulau. Kami memutuskan untuk menyewa becak motor untuk berkeliling pulau ini demi menghemat waktu. bentor (becak motor.red) yang kami naiki melewati jalan yang sudah di-aspal oleh pemerintah setempat, uniknya jalan beraspal itu hanya muat untuk sebuah kendaraan saja, sang pengemudi bentor yang kami naiki menjelaskan bahwa jalanan di pulau ini semuanya merupakan jalan satu arah jadi tidak ada kendaraan yang lalu lalang bukan sesuai dengan rute yang telah ditentukan walaupun tentunya para pengemudi harus membunyikan klakson setiap berbelok untuk memberi tanda kendaraan lewat agar tidak terjadi tabrakan.

Pulau Penyengat di jaman dahulu juga disebut dengan Pulau Air Tawar karena air yang tersedia di pulau ini tidak terasa asin dan dapat diminum, namun para pelaut yang singgah di pulau ini sering tersengat lebah yang kala itu disebut dengan penyengat, oleh karenanya akhirnya masyarakat mulai mengenal nama pulau ini sebagai Pulau Penyengat. puncaknya ketika masa Kerajaan Riau bertempat di pulau ini, akhirnya pulau ini resmi dinamakan Pulau Penyengat Indera Sakti.

Pada sejarah kerajaan melayu, pulau penyengat dikenal sebagai pulau yang dijadikan mas kawin oleh Sultan Kerajaan Riau Lingga untuk melamar seorang permaisuri yang bernama Raja Hamidah atau Engku Putri.

Pariwisata Pulau Penyengat sangat kental dengan nuansa kebudayaan melayu, beberapa anak sekolah pun nampak masih menggunakan baju kurung untuk bersekolah pada hari itu yang kebetulan masih hari sekolah. Bahkan setiap tahunnya pemerintah setempat menyelenggarakan festival Pulau Penyengat selama beberapa untuk menarik wisatawan berkunjung ke pulau ini.

Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Komplek Pemakanan Petinggi Kerajaan termasuk di dalamnya Engku Putri dan Raja Ali Haji yang menciptakan gurindam 12 dan dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu yang juga merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia. Di dalam kompleks makam-pun terdapat tulisan Gurindam 12 yang ditulis oleh Raja Ali Haji.

Sesudah mengunjungi makam tersebut, kami melewati sebuah kompleks makan raja lagi dan sebuah bangunan tua khas Belanda yang masih tegak berdiri. Bangunan yang saat ini masih kosong itu direncakanan akan digunakan untuk museum di masa yang akan datang. Bentor yang kami naiki pun mengantarkan kami ke sebuah rumah adat melayu. Di dalam rumah panggung ini terdapat singgasana beserta beberapa diorama yang menggambarkan masa-masa perjuangan yang dilakukan oleh raja-raja di masa lampau. Terdapat juga sebuah ruangan khusus dimana kamu dapat menyewa baju melayu untuk berfoto di dalam singgasana-nya loh, jadi kamu bisa merasakan jadi raja dan ratu sebentar saja. Di bawah rumah panggung ini terdapat sumur yang konon katanya airnya dapat berkhasiat.

Destinasi terakhir yang kami kunjungi adalah Masjid Raya Sultan Riau, masjid ini terletak di depan gerbang menuju pelabuhan, masjid berwarna kuning cerah ini dibangun pada tahun 1832 dibawah pemerintahan Sultan Abdurrahman. Hingga saat ini masjid kuning ini masih berdiri kokoh dan belum pernah direnovasi.  Masjid ini menyimpan banyak benda bersejarah diantaranya Mushaf Al-Quran yang ditulis tangan dari tahun 1700 dan 1800an masehi. Mimbar yang didatangkan dari Jepara, permadani dari Turki dan pasir yang konon katanya berasal dari Mekah. Dikatakan juga masjid ini dibuat dengan menggunakan putih telur sebagai campuran batu kapur, pasir dan tanah liat, bukannya semen sebagai alat perekat. Beberapa orang bahkan percaya bahwa mereka akan segera dapat jodoh jika berkunjung ke masjid ini, namun melihat realita bahwa saya saat ini masih jomblo single, rumor itu bisa dicoret dari “katanya” tentang masjid Pulau Penyengat ini :p

Pulau Penyengat di masa kini masih ditinggali oleh penduduk yang mayoritas bekerja di Tanjung Pinang sebagai pegawai negeri, berdagang serta melaut. Di pulau ini juga sudah terdapat sekolah dari SD hingga SMA dan jika kamu berniat untuk menghabiskan malam di Pulau Penyengat, di depan Masjid Raya terdapat penginapan satu-satunya di pulau ini yang dapat kamu sewa untuk menginap.

Berkeliling Pulau Penyengat membutuhkan waktu minimal setengah hari agar semua tempat dapat dikunjungi. Jangan lupa menggunakan pakaian yang ringan karena cuaca di pulau ini cukup menyengat sesuai dengan namanya. jadi suatu saat jika kamu mampir ke Tanjung Pinang, jangan lupa untuk menyeberang ke Pulau Penyengat ya 🙂

mau melihat foto-foto di Pulau Penyengat? kunjungi link ini

-Rie-

Related posts

2 Thoughts to “[Weekend Escape] Pulau Penyengat”

  1. pas ke sana kesengat lebah juga nggak mbak?

    1. Rie

      Enggak donk, kan udah pake aut*n. Lahahahaha :p

Leave a Comment