We only have one life, use it properly…

victoria harbour, avenue of the stars, hongkong at night, suasana hongkong di malam hari

Victoria Harbour, Suatu malam…

Seafood, beer, cigarette, Soy Milk dan kemilau lampu gedung di sekitar kami. Malam ini adalah malam terakhir kami di negeri mungil ini setelah beberapa hari berjibaku dengan segala macam dateline dan target, dapat dikatakan malam ini merupakan malam perpisahan, karena dua dari rekan saya akan kembali ke negaranya masing-masing, dan saya akan kembali ke Singapore. That’s life isn’t it? Ada chapter-chapter yang harus dilalui untuk menjadikan kita jauh lebih baik dan mempunyai pengalaman yang paling tidak dapat diceritakan kepada generasi-generasi selanjutnya di masa depan.

Saat itu, saya baru beberapa bulan saja lulus dari universitas dan hengkang dari kota yang hampir selama 5 tahun mengisi hampir seluruh masa menakjubkan dalam hidup saya. Selain itu juga, perjalanan saya kali ini bukan untuk “jalan-jalan” atau shopping seperti kebanyakan orang yang mengunjungi negeri ini, melainkan sebuah sarana “melarikan diri” dari pertanyaan “Kapan” dan “dimana” yang sering ditanyakan orang-orang pasca seseorang baru saja lulus kuliah. Apalagi saat itu saya terlanjur publikasi mengenai rencana masa depan saya yang tadinya akan dilanjutkan ke benua seberang yang gagal lantaran kondisi internal negeri tersebut tidak memungkinkan. Dibandingkan memaki keadaan dan menjadi contoh yang tidak baik untuk kesepuluh “mentee” saya, saya memilih untuk tetap berkarya, walaupun di luar passion yang sedari dulu saya kejar.

Sepuluh hari berada di negeri ini, bukannya saya dapat dengan mudahnya melihat Disneyland ataupun festival walk. Saya harus hanya puas dengan pemandangan gemerlapnya Victoria Harbour – Hotel setiap harinya demi mengerjakan project tepat waktu. But it is over tonight.

Kedua rekan saya yang berasal dari negeri matahari terbit ini nampaknya lebih beruntung dibandingkan saya, yang satu memang mempunyai passion dalam bidang riset, yang satu merupakan seniman yang ikut project ini untuk sekedar mengisi waktu sebelum melanjutkan karyanya dilabeli perusahaan di negeri utara amerika sana dalam hitungan minggu. Sedangkan saya, tercemplung ke dalam project ini karena ajakan rekan yang saya kenal semasa traveling, jadilah selama kurang lebih sepuluh hari, kami bertiga berjibaku dengan urusan project untuk sebuah NGO.

“Apa yang akan kamu lakukan sekembalinya ke Singapore, rie?” Tanya Ken.

“Don’t know, still have no plan yet.. haha” jawabku hambar.

“Ayolaah, semangat dikit donk, sesemangat saya belajar Singapore-english, wah susah banget bahasa itu ya, saya kayanya bakal ahli dalam bahasa singlish sebentar lagi deh. Hahaha” Timpal Abe

Abe memang ngotot banget belajar Bahasa Inggris dan Singapore-English setibanya di Singapore beberapa minggu sebelum saya datang ke negara tersebut, bahkan dia meminta saya mengajarinya berbahasa Indonesia dan tak lupa mencatat setiap kata yang saya ajarkan kepadanya dalam buku kecil yang selalu dibawa olehnya. Impiannya adalah menjadi peneliti handal yang dapat berbicara banyak bahasa di dunia. Saya akui, sedikit banyak keberadaanya menyentil sikap yang saya lakukan beberapa minggu terakhir untuk menyerah saja terhadap kenyataan di luar dunia perkuliahan.

“haaa… kamu mah emang niat banget…” kata saya.

“Iyalah, aku sadar banget masih banyak banget yang harus kupelajari di dunia ini, gosh, aku bahkan berpikir hidup lima kali lagi pun aku ga akan sanggup mempelajari semuanya. Padahal aku pengen banget belajar tentang banyak hal. Oleh karenanya, hidup kita yang satu kali ini jangan disia-siakan dengan kelesuan kaya gitu donk, Rie…” Abe menambahkan.

Saya cuma nyengir, menutupi hati yang nyesek ibarat langsung ditonjok di muka oleh kata-kata Abe tersebut.

“Just like you said to me, do what you love, love what you do. Right?” Ken menimpali.

“Bener banget…” Abe menjawab pertanyaan Ken dengan yakin.

“Gini deh, inget beberapa hari yang lalu saat tidur aja kita pun ga bisa, dari pagi sampai pagi sibuk sama data, dan inget juga ga tadi pagi saat data yang kita kerjain di kasih ke leader Tan, dia senyum puas banget sama hasil kerjaan kita. Kayanya rasa capek yang kemaren-kemaren langsung hilang, serius deh. It’s called passion. We enjoy what we do, dan puas dengan apa yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya” Cerocos Abe lagi.

“Kalo itu si, saya juga tauuuu… haha” Kata saya menaggapi ocehan Abe.

“Naaah… makanya itu, Rie. Kamu harus semangat donk, kejar passion yang ada dalam diri kamu. Oke? Toss dulu laaah…” Kata Abe menjulurkan tangannya meminta highfive dari saya. Saya membalas tangannya dan kembali tersenyum.

“Dulu saya juga pernah bilang gitu sama seorang teman saya, Do what we love, Love what we do, seandainya kita belom bisa mengerjakan apa yang kita cintai, usahakanlah dulu mencintai apa yang kita kerjakan, karena cinta itu kan kata kerja, dia tidak akan bisa dirasakan jika kita tidak mengerjakannya. Hehe… sok bijak ya saya, padahal sekarang mah lesu gini…” Kata saya.

“Naaah… you’re not, aku yakin ko ini cuma sementara, all you have to do is believe, dear. Aku yakin banget, pasti ada sesuatu yang mau diajarkan kepada kamu melalui jalan ini. Just believe” Abe menunjukkan senyum khasnya.

“Doh ni anak, seandainya bisa dibawa pulang, gw bawa deh…haha” batin saya

“Oki doki, boss” Jawab saya.

“Hahaha… kamu harus menulis sebuah buku, Abe. Mungkin aja akan laris di pasaran, tentang motivation” Kata Ken meledek Abe.

“I will, dan kamu harus beli satu ya Ken, dan kamu juga, Rie. Tetap menulis ya, aku pasti akan jadi pembaca setia tulisanmu deh” Jawab Abe cuek.

“Gayanya kaya bisa Bahasa Indonesia aja, hahahaha” kata saya.

“Dua tahun lagi, ketika kita bertemu kelak, saya sudah jago Bahasa Indonesia nih” Kata Abe pede.

“Oke, dua tahun lagi, ketika kita ketemu, aku ga akan pake bahasa inggris saat ngomong sama kamu. Noted that. Hahaha” tantang saya.

“Sure” Kata Abe pede sambil meneggak gelas bir yang ada di depannya.

“But promise me something,” Pinta Abe

“hmm..hmm.. apa?” Tanya saya sambil memandang ribuan watt lampu di hadapan saya.

“You have to give the best in everything you do, no matter what people said. Catch your passion and enjoy your life, we only have one life, use it properly…” Kata Abe.

Saya tersenyum mendengar kata-katanya, sekilas saya seperti mendengar diri saya sendiri menasehati salah satu mentee saya dalam beberapa kesempatan mentoring, tapi kali ini, justru saya yang dinasehati oleh orang yang baru saya kenal dalam hitungan minggu.

“I Will” jawab saya yakin.

“Good girl…” Kata Ken sambil menepuk kepala saya.

“Nanti jika CD-ku sudah rilis, kamu pasti akan kuberikan satu sebagai hadiah.” Kata Ken.

“Nice, asik.. haha” Jawab saya.

“ohh.. aku juga mau satu donk..” Kata Abe

“Gampaaanggg.. haha” Ken menjawab sambil nyengir.

Perasaan saya campur aduk malam itu, hari-hari diskusi dengan mereka berdua harus disudahi dalam beberapa jam ke depan, yang pastinya tidak tahu pasti kapan akan bertemu kembali. Tapi yang pasti, dua orang ini telah memberikan kembali semangat saya yang sempat meredup beberapa minggu belakangan ini.

Sekembalinya ke Singapore, saya seperti mendapatkan semangat baru. Mungkin memang saya diberikan jalan “sedikit berbelok” untuk diajarkan paradigma lain dalam berpikir, mungkin saya diberikan sedikit waktu untuk menunggu agar belajar tentang kerendahan hati dan kesabaran, dan mungkin saya dibiarkan memilih jalan yang sedikit bercabang untuk diajarkan tentang ketetapan hati.

Nyaris setahun saya tidak bersua dengan kedua rekan saya ini, tapi saya yakin, someday, somewhere, I’ll meet them, at the time when we all already reach our dreams, our passion.

“We only have one life, Use it properly….” –Abe

Indonesia, dalam kilauan lampu yang tidak segemerlap Victoria Harbour, tapi dengan semangat yang telah menyala sekuat matahari…. I’m sure you read it, Abe.. ^^

There always lessons in every journey

-Rie

Related posts

Leave a Comment