Traveling yang aman dan tidak aman

“Kamu jalan sendiri? Gak takut? Emang aman ya?”

Familiar dengan kata-kata di atas? Saya apalagi. Sebagai seorang cewek, mandiri dan jomblo,  saya sering banget pergi traveling sendirian, baik itu traveling bener-bener sendirian atau setengahnya sendirian maksudnya travelmate dan saya akan ketemu kapan dan dimana gitu. Hari gini sih sudah banyak juga para wanita di luar sana yang mulai berani untuk traveling sendirian. Aman atau gak aman menurut saya tergantung dari kitanya masing-masing. Saya ada dua cerita untuk perbandingannya.

Katanya Jepang itu aman, Tokyo, 2017

Masih sedikit gelap ketika saya melangkahkan kaki keluar dari Hostel di Tokyo, hari ini saya memang sengaja berangkat pagi karena sudah janjian dengan beberapa rekan akan menuju Gala Yuzawa untuk mengunjungi ski resort-nya yang terkenal. Kami janjian pukul 10 di Stasiun Tokyo untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan shinkanshen. Namun karena hostel saya ada di bagian Tokyo yang cukup terpencil dan jarak antara hostel dengan stasiun metro terdekat kurang lebih 1 kilometer, jadilah saya harus berangkat agak awal dari hostel.

Cuaca masih sangat dingin karena saat itu adalah musim dingin, jalanan masih sangat sepi karena belum genap pukul 7 pagi. Saya mengancingkan jaket dan memasang sarung tangan siap untuk berjalan menuju stasiun. Berbelok dari gang hostel saya berada tiba-tiba ada dua orang pria cukup berumur menghalangi langkah saya, bau alkohol cukup menyengat dari keduanya. Saya yang positif thinking mengindar ke kanan untuk melanjutkan perjalanan, namun salah satunya bergerak menutupi jalan saya, ketika saya ke kiri, dia juga ikut ke arah kiri saya. Akhirnya saya berhenti dan melihat mereka.

money..money..” katanya kepada saya.
Saya mengacuhkannya dan mencoba untuk berjalan lagi ke depan, namun dia menghalangi jalan saya kembali.
Two..money..two..” katanya mengacungkan tangannya ke arah saya.
“No.. No..” sahut saya sambil berusaha untuk maju ke depan.
“Money…” katanya lagi.
“NO…!!! go away..” Akhirnya saya sedikit berteriak dan otomatis memasang tampang saya yang (emang dari sananya) galak, mereka akhirnya memberi saya jalan. Saya buru-buru melanjutkan perjalanan ke stasiun dan mempercepat langkah saya tanpa lihat-lihat ke belakang lagi setelahnya.

Dalam hati saya sedikit bertanya-tanya, katanya Jepang itu aman sekali sampai-sampai kalau ada dompet jatuh gak akan ada yang ambil, tapi kejadian pagi itu membuat saya sadar kalau memang kita harus selalu waspada dimanapun kita traveling. Jangan sampai terbuai “katanya” karena pengalaman orang yang satu dengan yang lain itu berbeda.

Tanjung Priok, 3 tahun yang lalu.

Saya sedikit anxious malam itu, bagaimana tidak, saya akan pergi ke Raja Ampat. Tapi dengan penerbangan jam 5 pagi yang mengharuskan saya paling tidak berangkat dari rumah pagi buta. Mau menginap di bandara, tapi si nyokap ngelarang, mau naik taksi tapi pengen irit. Akhirnya saya pun memutuskan akan naik Damri dari Terminal Tanjung Priok sekitar pukul 2 pagi. Iya, Tanjung Priok, yang katanya serem, angker, banyak premannya. Jam 2 pagi yang masih gelap. Di terminalnya pula. Semaleman saya gak bisa tidur, mikir “1001 bagaimana seandainya” Haha… oke saya emang lebay.

Menjelang jam 2 saya sudah siap untuk berangkat, dengan diantar oleh om saya sampai terminal saya segera bergegas menuju Damri yang parkir di salah satu sudut terminal sesampainya di Terminal Tanjung Priok. Dengan mengenakan jaket, saya sengaja memasang ponco/tutup kepala saya karena seriusan saya agak-agak ngeri malam itu. Walaupun saya lahir dan besar di Tanjung Priok tapi sekalipun saya belum pernah nongkrong di terminalnya setelah pukul 9 malam.

Saya sengaja memilih kursi di belakang supir, meletakkan tas di depan kursi saya dan mengamati keadaan sekitar. Ada dua orang penumpang lain di bis itu yang keduanya pria. Anak-anak jalanan berteriak-teriak di jalan raya kepada truk dan kontainer yang lewat meminta uang receh, beberapa bis antar kota masih beroperasi di bagian terminal yang lain, beberapa orang masih nongkrong di pinggir jalan sambil ngobrol dan merokok. Suasana terminal itu masih cukup ramai dan tidak sesepi yang dibayangkan.

Beberapa menit kemudian masuklah seorang penumpang wanita bersama seorang anak dan si supir Damri pun menyalakan mesin bis bersiap untuk berangkat ke bandara. Tepat pukul 3 pagi bis yang saya tumpangi pun berangkat ke Soekarno-Hatta dan petualangan Raja Ampat pun dimulai tanpa kendala apapun.
*—*

Saya memang pernah traveling Jogja-jakarta mengendarai motor dengan seorang teman saya yang juga cewek, saya juga pernah sendirian numpang bis dari Lombok ke Surabaya keduanya merupakan pengalaman yang menyenangkan tapi saya pernah juga ngalamin pengalaman tidak menyenangkan di Terminal Ubung setelah traveling dari Flores saat itu bahkan ada 9 orang travelmate saya lainnya.

Traveling itu memang awalnya berasal dari “katanya”, kata buku tempat ini bagus, kata temen disana aman, kata media ada fasilitas ini itu di kota tertentu. Semua itu katanya sampai kita mengalaminya sendiri, termasuk aman gak aman sebuah tempat. Yang jelas ketika kita traveling baik sendiri atau sama temen, kita harus selalu aware dengan keadaan sekitar, positive thinking itu baik asal gak kebablasan. Jangan sampai liburan kita malah berakhir dengan pengalaman tidak menyenagkan karena kebanyak percaya yang “katanya” itu. Tapi, kecemasan berlebihan juga gak bagus, seperti kata Mbak Trinity, “Worrying takes you nowhere…” Jadi, mau kemana lagi kita selanjutnya? 🙂

 

-Rie-

Related posts

6 Thoughts to “Traveling yang aman dan tidak aman”

  1. Hebat… traveller sendirian goodjob 5 jempol deh hehe

  2. wahhh suka travelling yahh, balik lagi dong ke jogjaaaaa, jalan-jalan lagi nikmatinnnn daerahhh sekitarann jogjaaa bersama sayaaa dan teman” … ayoookkkk, tanggal 28 maret rencana mau ke Gunung Sindoro nihh… katanya lebih tinggi dari Gunung Merbabu… waaaww..

    1. Rie

      mihih… Jogja udah khatam, sekarang kesana setahun sekali aja 😀

  3. Seru euy! Bagaimanapun, traveling slalu punya kisahnya masing2, termsk soal aman/tdk aman ini.
    Salam kenal 🙂

    1. Rie

      salam kenal 🙂

Leave a Comment