Transolo Experience menuju Adi Sumarmo di Negeri Antah Berantah

batik transolo, transolo, bus di solo, transportasi di solo

Lebih dari empat tahun saya hidup di Jogjakarta, tapi belum pernah sekali pun dalam waktu tersebut saya menengok yang namanya Bandara Adi Sumarmo yang letaknya di Solo. Awalnya si emang ga ada niatan untuk tau letak bandaranya karena dalam pikiran saya tidak pernah terbesit sedikitpun bakal terbang dari bandara itu. Hehehe… tapi ternyata saya salah sodara-sodara sekalian, ketika partner saya membeli tiket PP Solo-KL-Solo untuk perjalanan kali ini, mau ga mau saya pun harus lewat bandara itu, ya kan?. Beberapa hari sebelum hari H keberangkatan, yang saya tanyakan sama seorang penduduk Solo adalah…

“Naik apa? Berapa lama? Gedean mana sama Adi Sucipto?” tipikal pertanyaan yang ga niat untuk cari tau lebih lanjut bagaimana cara mencapai bandara tersebut dari pusat kota. haa…

Dimulai pada suatu hari dimana saya dan rekan seperjalanan saya yang bernama Arni akan melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur melalui Solo, kami sepakat untuk berangkat melalui Stasiun Lempuyangan naik kereta prameks dan akan disambung lagi dengan beberapa alternatif kendaraan yang akan saya ceritakan lebih lanjut nanti. Sampai juga akhirnya saya dan Arni si Stasiun Purwosari, Solo setelah satu jam naik prameks (prambanan ekspres.red) dan berdiri karena kereta penuh.

Dari rencana kami setelah mengadakan riset kecil-kecilan, kami akan naik Damri menuju bandara karena letak bandara ternyata cukup jauh dari pusat kota. Seturunnya dari kereta, pertanyaannya adalah,

“Kita naik Damri darimana?”

Pertanyaan bagus bukan? Karena bayangan saya Damri itu emang ngetem di stasiun seperti yang sering saya liat di Stasiun Gambir, tapi ternyata setelah kami sampai di Stasiun Purwosari tidak ada sebutir Damri pun yang nongkrong disana. Akhirnya daripada nyasar, kami pun menuju dua orang berseragam security yang masih cukup muda lalu bertanya,

“Mas, kalo mau naik Damri, naiknya darimana ya?” tanyaku

“……..” si mas-mas security bengong

“Ituloh mas, Damri yang mau ke Bandara” Tambah Arni

“Oh, Mbaknya mau ke Bandara?” si Security akhirnya paham

“Naik Batik Transolo aja” Sarannya

“Emang itu nyampe bandara ya?” tanya Arni lagi

“Kayanya si nyampe” Kata si Security lagi

“Lah, pake kayanya, emang ga ada Damri-Damri itu mas?” tanyaku.

“Damri itu bus di luar itu loh, cuma saya ga tau” jawab masnya.

“Beneran ni naek Transolo?” Tanya Arni ga yakin.

“Iya . tapi Mbaknya naek yang di seberang sana ya” Tunjuk si mas security ke seberang jalan.

Okelah daripada berdebat ga jelas lagi akhirnya kami langsung menuju ke TKP setelah mengucapkan terima kasih. Desas-Desus mengenai keunikan Transolo memang sudah saya dengar sebelumnya, namun baru hari ini saya mengalami transolo experience. Nah.. Pengalaman dimulai…

Keluar dari Stasiun Purwosari kami menemukan sebuah bangunan mungil yang disebut halte Transolo. Sepi… tidak ada penjaga tiket yang tampak seperti biasanya jika kita akan menaiki trans-trans yang lainnya. Saya dan Arni menyebrang jalan dan kemudian menuju ke halte Transolo tersebut, ternyata benar, disana hanya ada satu orang calon penumpang yang sedang asik menikmati donat sambil memandang jalan. Saya terheran-heran karena tidak ada manusia lain yang berada di halte tersebut, akhirnya saya pun bertanya kepada mas-mas tersebut.

“Mas, kalo mau ke Bandara bisa ya naik Transolo dari sini?” Tanya saya

“Iya Bisa, nanti bisa langsung ko. Bilang aja sama petugasnya” Kata si Mas

“Ntar beli tiketnya di dalam Transolo nya ya Mas” Tanyaku lagi

“Iya Mbak, nanti langsung aja di dalam. Kalo ga salah tiketnya harganya 7000” Jelas si Mas lagi. saya pun langsung duduk di samping mas-mas tersebut sambil menanti Transolo datang.

Jalanan di depan Stasiun Purwosari tampak padat siang itu, sambil mengamati jalan saya terus berpikir mengenai Transolo yang akan saya naiki. Beberapa saat kemudian, lewatlah sebuah Transolo di seberang jalan. Saya pun memandangi angkutan besar tersebut dari depan sampai belakang, tiba-tiba…

“Ni, yang dimaksud temenmu Damri itu Transolo kali ya, itu di belakang mobilnya ada tulisan Damri-nya gede” tunjukku pada Arni

“Iya po? Mana?” Tanya Arni

“Itu tuh” Kata ku menunjuk bagian belakang Transolo yang ada di seberang jalan.

“Hahaha… iya kali yah” Kata Arni sambil tertawa

“Yaelah, ku kira bentuk Damri nya kaya yang biasa mau ku naikin kalo mau ke bandara di Jakarta” Kataku disambut dengan kedatangan Transolo di depan halte kami. Akhirnya Transolo Experience pun dimulai.

“Mba, ini bisa kan ke bandara?” Tanya Arni setelah pintu terbuka dan ada seorang mbak-mbak penjaga tiket yang berdiri di depan pintu masuk Transolo tersebut.

“Oh iya, bisa” jawab si Mbak tersebut.

Kami berdua pun masuk dan memilih duduk di bagian paling belakang agar bisa leluasa duduk berbarengan dengan carrier 10 KG yang kami bawa, setelah duduk saya pun mengamati keadaan di dalam Transolo tersebut. Bentuk dari Transolo sama saja dengan bentuk Transjakarta, bedanya Transolo lebih imut dibandingkan Transjakarta yang mempunyai badan lebih bongsor, selain itu bedanya lagi di dalam Transolo terdapat Mbak-mbak penjaga tiket yang berdiri di depan pintu masuk sedangkan di Transjakarta, mbak-mbak penjaga tiket berada di halte transit.

Halte-halte tansit untuk Transolo pun bentuknya imut-imut, bahkan ada beberapa “halte” yang bentuknya hanya berupa tangga seperti miniatur tangga-tangga yang akan digunakan ketika naik ke pesawat. Uniknya lagi, Transolo ini kadang tidak berhenti di tempat yang sudah disediakan, sempat beberapa kali Transolo yang saya naiki berhenti di pinggir jalan layaknya angkot sehingga penumpang yang naik atau turun harus bersusah payah mengangkat kakinya lebih tinggi dibanding biasanya karena pintu masuk yang cukup tinggi.

Perjalanan ke Bandara Adisumarmo pun terasa berbeda karena saya kerap memikirkan “keajaiban” Transolo ini, dan beberapa kejadian “unik” sepanjang perjalanan menuju bandara. Misalnya: si mbak-mbak penjaga tiket yang seringkali harus berpegangan pada penyangga di dalam bus karena sang supir kerap berhenti mendadak, lalu ada kejadian dimana Transolo harus berebut tempat berhenti dengan angkot di pinggir jalan karena tidak memanfaatkan halte pemberhentian yang telah disediakan, sampai prinsip “mesakke” atau kasian jika menurunkan penumpang di halte yang letaknya cukup jauh dari tempat tujuannya.

Haahh.. kalau begitu kenapa pemerintah harus repot-repot membangun tempat pemberhentian, bukankah itu sama saja mubazir?? Sudahlah…

Letak Bandara Adisumarmo ini memang cukup jauh dari pusat kota, saya jadi teringat perbincangan saya dengan sahabat saya, sebut saja Tyo yang mengatakan memang idealnya letak bandara itu tidak terlalu dekat dengan pusat kota. Jadi ya dimaklumi saja. Lama-kelamaan berada di dalam Transolo saya jadi sedikit bosan, apalagi mengamati mbak-mbak penjaga tiket bercelana ketat terombang-ambing di dalam bus berperan sebagai “kenek” yang sibuk menghitung uang sambil menarik ongkos ketika ada penumpang yang baru.

Pasar, terminal, jalan besar sampai jalan kecil yang kanan kirinya terdapat semak belukar sudah dilewati tapi bandara tidak kunjung terlihat, saya jadi semakin penasaran dengan bentuk bandara milik tetangga Jogja ini yang kata beberapa teman saya lebih megah dibandingkan dengan bandara milik Jogja sendiri.

Akhirnya setelah hampir satu jam terombang-ambing di dalam angkutan ajaib dan mengalami berbagai pengalaman unik, bandara pun terlihat. Di dalam bus mendekati bandara yang tersisa hanya saya, Arni, dua orang penumpang lain dan sang supir. Oiya, mbak-mbak penjaga tiket telah turun di sebuah tempat beberapa saat sebelum tiba di bandara karena katanya mau makan siang. Haha.. saya jadi semakin takjub dengan Transolo Experience saya kali itu.

Bandara Adi Sumarmo memang terlihat lebih megah dibandingkan dengan Bandara Adisucipto, struktur dan penampakan depannya mengingatkan saya akan bentuk bangunan Bandara Minangkabau yang ada di Kota Padang. Namun bedanya, di Bandara Adisucipto ini sangat terasa nuansa khas Jawa. Yah bagaimanapun bandara inilah tempat saya akan beranjak keluar dari bumi pertiwi dalam perjalanan kali ini dan kelak akan menjadi tempat kembali setelah perjalanan ini, walaupun jauh dan terasa seperti di negeri antah berantah, pengalaman menuju bandara dengan Transolo Experience membawa kesan dan pelajaran tersendiri bagi saya.

Lain kali jika rekan-rekan mungkin berkunjung ke Kota Solo, silakan rasakan sendiri Transolo Experience. Yah syukur-syukur infrastruktur dan pelayanannya sudah diperbaiki sehingga kenyamanan dalam menaiki angkutan tersebut bisa lebih baik, namun jika ternyata masih seperti yang saya ceritakan, jangan lupa ceritakan kepada saya bagaimana sensasinya ya :p

hehehehe …. 

Related posts

26 Thoughts to “Transolo Experience menuju Adi Sumarmo di Negeri Antah Berantah”

  1. Aryo

    interesting..haha
    ehm, itulah sebabnya perubahan kadang infrastruktur harus dilakukan secara radikal dan menyeluruh sehingga pelaksanaannya tdk setengah2.
    nice post,rie 🙂

    1. hoi hoi, what’s up” 🙂
      aih anak teknik berbicara :p
      hayok kapan kapan kita ngerasain transolo experience bareng, di osaka ga ada kan yang kaya gini? :p

  2. aku kalo naik transolo selalu ngakak. habisnya berasa jadi dirigen upacara benderakaloberdiri di halte yang cuma jkayak podium itu hehehe,, aku dulu pas aik itu juga heran.bisa berhent sesuka kita, mbak2nya yang jaga tiket juga teriak2 gak jelas hehehe,,,,

    ta[i kata sepupuku yang orang solo, emang itu udah dapet banyak kritikan soalnya suka ngawur berhentinya

    1. haha.. bener banget, baru kepikiran istilahnya kaya gitu, hahahaha… :p

  3. limat taon di Jogja, aku belum pernah ke bandara Adi Sumarno Solo, kapan2 jadi pengen berangkat lewat sono deh biar merasakan si Transolo experience.. hahaha, thank you for sharing riz 😀

    1. yoi mantaab,, biar ngerasain uniknya sensasi naik transolo. hihi..
      pasti ngakak deh, aku aja cengar-cengir pas naik ituh.. kekekek :p
      anytime don ^^b

  4. Transolo apa Trendolo tuh? haha

    1. trendolo ki maksute opo nu? 😀

      1. sesuatu yang absurd hahaha

  5. itu kayaknya ada yg salah sebut mbak “Perjalanan ke Bandara Adisucipto pun terasa berbeda karena saya kerap memikirkan “keajaiban” Transolo ini”
    nah nanti aku ke Bandara Juanda, yg termegah versi majalah bandara …..haha
    makin bingung ntar nginep dulu apa langsungan dari jogja…

    1. tengkyu koreksinya, ntar aku ralat segera..
      haa.. aku juga mau ke bandara juanda, sama bandara hasanudin katanya juga bagus.
      sharing ceritanya ya kalo udah kesana duluan 😀

  6. Gw pernah naek ntuh transolo.
    Ampe harus meyakinkan diri sendiri kalo itu tuh bener2 transolo. Bukan odong2 yg didandanin ama dipakein baju..
    Hahaha.

    kirain gw cuma trans metro bdg doang yg aneh.. Hahaha.

    1. hehe… gw malah belom pernah naik trans metro bdg. ntar deh kapan-kapan nyoba..
      aseek :p

  7. rudy ganteng

    hahahaha….. mungkin masih trial version, ntar dicari dulu serial numbernya biar bisa jadi lebih full version dengan pelayanan dan infrastruktur yang lebih baik 🙂

    1. hahaha.. emangnya angrybird :p
      tapi emang (daridulu) bilangnya ini masih coba, tapi ko lama ya coba-cobanya :p

  8. NRM

    Baru tau ada yang namanya transolo, tak kira semacam angkot jogja kaliurang gitu.

    1. haaa.. ga gahol ni noorman.. kekekeke :p
      besok2 cobain lah 😀

  9. Krn sebenernya adi sumarmo itu masuk ke kab boyolali. Jd mirip soetta ya, ka. Masuknya tangerang bukan jkt. Dan ‘asiknya’ lagi di belakang bandara (seberang pagar runway) jadi tempat wisata. Byk penjual2 es/makanan ringan dan orang2 lokal yg nyantai liat kesibukan lalu lintas pesawat.

    1. ah bener, lumayan jauhnya dari pusat kota. hihi..
      untungnya yang jualan sama orang lokalnya ga menuhin bandara sampai kaya yang di bandara lombok yang baru dibangun ya mas :p

      1. Hah? Di lombok sampe masuk di area bandara? Kebayang semrawutnya ky apa… Blm liat yg skrg gmn ka. Wkt itu lewat pas blm operasi, sayang bgt pdhl lumayan keren. Mirip2 hasanudin mks ya…
        *kok jd ngomongin bandara lombok* 😀

        1. ho oh mas, waktu itu sempet masuk kom**s ato vi**news deh kalo ga salah…
          jadi kaya pasar tumpa jadinya… ahahahah :p

  10. arniroo

    Mo komen ah..takut dekejar2 and ditagih2 bwt komen..hihihi…

    Yg perlu dinikmati sensanyiny itu si sopir yg serba labil..kadang kencengnya kelewatan..tiba2 ngerem mendadak..mo nurunin penumpang..tengok kanan kiri..kalo aman..turunin penumpng..kalo g aman..jaln lagi…hahaha…berasa penculik takut ketahuan :p

    nah…perlu diakui..bandara solo lebih luas dr adi sutjipto..dan penataannya ( Clustering bandaranya ok) juga dr segi security..tampak lebih rempong ;p

  11. arniroo

    mo komen ah..takut ditagih mulu..hahaha..
    yeah…yg perlu dinikmatti sensasinya dari naek transsolo ini yaitu keababilan dari si sopir..

    kadang kenceeeng..rem mendadak!!!

    sering pelan…tengok kanan kiri…kondisi ama–> turunin penumpang
    kalo g’ aman..jalan lagi!!

    jadi penumpang bisa turun jauh dari tempat seharusnya dia berhenti hahaha

    sampe di deket bandara…WOW!!!!
    berasa di negeri baru yg g dikenal..

    bandaranya emang lebih gedhe n lebih well clustering ..dan security systemnya juga sedikit rempong!!! hahaha…

    dan pertama kali liat pesawat silk air ya di bandara ini

    (malah ngomongin bandara) hahaha…

    1. haha.. berasa manggung di panggung dangdut ya :p
      tapi emang security bandaranya rempong banget, pas pulang juga kaya gitu. dan yang penting, imigrasinya cuma seiprit.. hahaha 😀

  12. Anindita

    haaa ak pngn jalan2 ke solo naik trans solo blm kesampean dr dulu..ayook mbak,kapan2 kita main bareng..
    Btw,jangankan k bandaranya,naik pesawat aj blm pnh saya..wkwkwk

    1. hayok, sebelum aku hengkang dari jogja ki 😀

Leave a Comment