suatu malam di Terminal Ubung….

Ketika dulu pertama kali memutuskan untuk solo traveling, hal yang lumayan bikin saya parno adalah “suasana” di terminal/pelabuhan/stasiun bahkan bandara ketika malam tiba. Tau sendiri kan di negara kita tercinta ini sudah banyak banget cerita yang serem-serem tentang kriminalitas yang terjadi di tempat “ngetem” transportasi umum. Nah, ini nih pengalaman yang bikin saya lumayan keki yang terjadi di salah satu terminal yang terkenal di daerah Bali. Check this out ^_^


Poppies Lane, Januari 2011.

Gembolan tas di punggung ditambah rasa pegel-pegel karena sudah lebih dari delapan hari melanglangbuana ke daerah timur bertumpuk jadi satu. Emang nampaknya kalo di akhir masa traveling gini rasanya males tambah pegel kalo membayangkan harus naik kereta keramat ‘Sri Tanjung’ selama lebih dari 12 jam dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Bakal kangen sama suasana birunya laut dan serunya keliling tempat baru euy. Ahahaa…

Karena memutuskan efisiensi waktu dan biaya, saya dan beberapa orang rekan seperjalanan saya menyetop taksi di sekitar Kuta yang kala itu mulai beranjak malam. Rombongan kami kala itu terdiri dari 7 orang yang dibagi ke dalam 2 buah taksi. Taksi pertama terdiri dari saya, Arni dan rahmanu, sedangkan taksi kedua diisi oleh wayan, Basari, Lery dan Mas Dedi. Berangkatlah taksi kami bersama-sama menuju Terminal Ubung untuk melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk lalu menyeberang menggunakan fery ke Banyuwangi.

Sepanjang perjalanan saya hanya melihat kaca jendela menikmati suasana Legian-Denpasar di Kala malam sambil sesekali mendengar obrolan antara rahmanu,arni dan supir taksi tentang masa-masa ramai turis asing di Pulau Dewata. Obrolan kurang lebih lima belas menit itu pun terhenti ketika taksi mulai mendekati terminal ubung.

“Saya turinin mas sama mbaknya di luar terminal aja ya, soalnya kalo di dalam terminal suka banyak calo” jelas si supir taksi. Pemandangan di luar taksi sudah mulai terlihat banyak calo yang mengelilingi taksi kami sambil menawarkan tiket bus dan kendaraannya.

“oke pak, gapapa ko” Jawab Arni. Saya dan rahmanu pun bergegas keluar dari taksi untuk mengambil barang-barang yang ada di bagasi taksi dan menyerahkan urusan bayar membayar kepada arni. Sementara itu beberapa detik kemudian taksi yang satunya pun muncul dan memarkir mobilnya persis di depan taksi kami. Taksi kedua pun langsung dikerubungi oleh berbagai calo dan kenek bus.

Saya yang masih terbengong-bengong melihat keadaan itu mulai tersadar sedikit-demi sedikit ketika melihat tas (yang saya kenali) milik salah satu rekan seperjalanan saya diangkut oleh salah seorang kenek bis dan pemiliknya tidak ada disana.

“loh, koq tasnya wayan dibawa sama orang itu si nu?” tanyaku pada rahmanu yang masih terbengong-bengong karena para kenek bus masih ngoceh menawarkan busnya kepada kami.

“Ga tau e mbak” jawab rahmanu polos. Beberapa saat kemudian wayan datang diikuti oleh Lery dengan muka panik.

“ Tasku dibawa sama masnya itu. Aku kesana dulu, punya lery juga diambil e” Kata Wayan lalu langsung masuk ke dalam terminal bus.

Sontak saya pun langsung terbakar emosi, sambil menenteng tas punggung, saya langsung menghampiri Mas Dedi yang sedang berdiri di bis terdekat yang ada di sekitar kami, rahmanu dan arni pun mengikuti saya.

“ pegangin tas gw, kalian disini aja. Inget, Disini aja. Gw ke dalam dulu, ngurusin tas” kataku sambil naro tas punggung hitam besar di dekat Rahmanu dan Mas Dedi lalu ngacir ke dalam terminal.

Suasana di terminal malam itu sangat ramai, ditambah para kenek dan calo yang bertebaran dimana-mana menawarkan bus nya dengan sedikit “memaksa”. Saya pun berusaha menemukan ketiga rekan saya yang sedang mencari tas nya yang seenaknya dibawa oleh para kenek ke bus mereka. Dengan sedikit emosi karena sudah capek karena berhari-hari traveling ditambah kejadian “ajaib” di terminal ini, saya menuju portal masuk terminal ubung.

“Mbak, bayar peron dulu mbak” kata petugas peron sesampainya saya di portal.

“saya mau ngurus tas, pak. Bukan mau naik bis” jawabku sekenanya sambil melengos menuju bus yang di sampingnya terdapat basari sedang melihat wayan “ngobrol” dengan supir bus.

“mana tasnya?” tanyaku
“Itu mbak, tas ku di dalam. Dibawa ke dalam sama abangnya” kata lery sambil memelas.

“gini mbak, kita nego dulu harganya. Ntar bisa ditawar lah” salah satu kenek bus menghampiri saya sambil nyerocos.
“ambil tasnya sekarang” kataku pada wayan.
“kita nego dulu aja mbak” kata si kenek lagi.
“nego apaan mas. Kami ga mau naik bus ini, jadi ga usah pake nego-negoan. Anda ga boleh gitu donk bawa tas orang sembarangan. Cepet ambil tasnya sekarang” kataku dengan nada tinggi. Wayan dan lery langsung ngacir ke dalam bus untuk mengambil tas mereka sementara basari cuma nyegir-nyengir.
“ga usah marah-marah gitu donk mba” kata si kenek bus
“gimana ga marah-marah kalo begini caranya, jangan sembarangan donk” dampratku lagi.

sesudah wayan dan lery turun kami langsung meninggalkan bus tersebut sambil diiringi tatapan beberapa orang di sekitar bus.

“parah tu orang, ini lagi si lery panik. “tasku yan,taskyu yan” jadi tambah bingung aku” kata wayan.
“gimana ga panik kali, tas ku diambil orang” kata lery tak mau kalah.
“kamu galak banget,mba” kata basari sambil nyengir
“gimana ga galak, emosi gw ni” kataku masih bersungut-sungut.

Sesampainya di luar, mas dedi, rahmanu dan arni sudah menanti kami.

“Kita naik bus yang ini” tunjukku pada bus denpasar-gilimanuk yang kebetulan sedang ngetem di sekitar tempat mereka bertiga berdiri.

“gimana tadi?” tanya arni
“gini ceritanya…” wayan langsung bercerita tentang “tragedy” di dalam terminal ubung itu kepada arni. Yang lain ikutan menambahi sesedikit sambil berkomentar tentang kejadian ajaib tersebut. Kecapean traveling memang terkadang membuat sedikit emosi, tapi emosian itu kadang bagus juga untuk mengatasi hal-hal aneh seperti kejadian di atas :p

Pesan moral yang bisa diambil pada cerita ini adalah, selalu hati-hati saat berada di terminal/stasiun/pelabuhan bahkan bandara karena kalo kita tidak hati-hati, maka kejadian ajaib akan terjadi pada kita, kemudian selalu tegaslah menolak jika ada orang-orang tidak dikenal menawarkan hal-hal yang memang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan keabsahannya. Hehe…

Tapi jangan sampai karena takut dan khawatir justru menahan kita untuk berpetualang, karena sama seperti katanya Mbak Trinity “Worrying gets you nowhere” oleh karena itu, mari jalan-jalan, karena akan selalu ada pelajaran dalam setiap perjalanan.

Salam traveling ^^

Related posts

24 Thoughts to “suatu malam di Terminal Ubung….”

  1. aq ga mo rafting<Mbak.hahha.Untung aq ga jd kenekna.haha

  2. @anonim: woh, rafting itu asik looohhh… hihihi.. kalo jadi keneknya, bisa ku damfrat dikau, makanya hati-hati.. ahee 😀

  3. “kamu galak banget,mba” kata basari sambil nyengirPasti si Basari datar (polos) ne mukanya sambil nyengir.. wkwkwkwk

  4. kagak kebayaang mukanya mbak lerry yang panik….. ckckckck…

  5. ded

    pertanyaannya siapakah tu mbak trinity??

  6. wahh harusnya kita ramean disitu biar seru marah2nya.hahahhaayoo jalan barengg lagiii – Vini

  7. haha kejadian gila yang mengawali kepulangan ke tanah jogja 😀 Kejadian ini lebih parah daripada pas di Labuan Bajo "ruteng ruteng? puerte puerte?"

  8. kapan ne kita jalan bareng lagi? Yuks..

  9. jadi keinget dulu pernah dikejar2 preman wktu di terminal. haha

  10. @anonim: ehehe… mending tanya ke basari aja gimana ekspresinya dia saat itu :p@ubai: dibayangin coba, gimana mukanya?? hihi :D@mas ded: ketauan nih kalo dikau belom pernah baca the Naked Traveler ya?? hahaha :p

  11. @vini: waahhh.. ga kebayang kalo ada vini, pasti lebih heboh.. ahahaha :D@rahmanu: ho'oh itu lebih heboh daripada di labuan bajo, orangnya aja lebih banyak yang ngeberondong kita,, eheheh :p@anonim: ayoo.. kapan?@anonim (lagi): untungnya kemaren ga dikejar-kejar preman, jangan sampe deh :Dhadoohh pada kasih nama donk kalo komen,, ahahah 😀

  12. walah,kok ngeri ta itu kernetnya,emang hrs didamprat..salute buat keberanianmu,hheehe :D~wulan.mdin~

  13. @wulan: ho'oh, ngeri dan ngeselin. hehe.. makanya hati-hati kalo di terminal (sok-sokan nasehatin gini gw :p) hehehe…

  14. yaa… yaaa… yang kayak gini emang bikin kesel banget riz -____-" semacam portir gelap di soetta yang tau2 ngambilin barang kita tanpa ijin, habis itu minta bayar…. maksa, ya harus digalakin. setujuuuuuuu :D….. btw, mampir dong ke blog ku 😀 http://trustwidhi.wordpress.com/

  15. hahahahha…walaupun gitu,tapi lo tetep akan berpetualang kan? sampai indonesia habis lo kelilingin kan?

  16. @atok: yoi, harus galak #eh :pwow, blogmu bahasannya berat,, ahaha… akan kutinggalkan jejak disana :D@anonim: yup, selama masih bisa, akan kukelilingin Indonesia dan dunia. mari jalan-jalan 😀

  17. Hajar Ka, mantap. Menghadapi orang2kayak gini sepertinya memang harus digalakin sekalian. Ini udah lama toh? Kok baru posting sekarang?

  18. @anonim: hihi.. iya e.. pas aku kemaren dari flores pas bulan januari, tapi males nulis, makanya baru keluar sekarang postingannya 😀

  19. -Nur-waaah,,parah nek iku mbak….aku baru tau kalo ada yang begituan,, hajar mbak…haha… ^_^v'worrying gets yiu nowhere' so 'don't worry be happy…jalan teruuus…hahapengen jalan-jalaaaan…>.<

  20. harusnya pas dia ngambil tas langsung kita gaplok tangannya..biar lebih heroik dan dramatis

  21. @nur: ayo jalan-jalan ^_^@avventurio a.k,a wayan: dudul, tas loe yang diambil harusnya loe lah yang nge-gaplok abang-abangnya. gw kan cuma bantuin damfrat aja.. ahaha :p

  22. so good… masi inget aku ekspresi mas wayan yang memelas-melas am mba lery yg panik….apalagi muka abang kneknya yg kaget wktu kmu bentak mba… 😀

  23. @petrcoy (basari): haahha.. ini basari loh yang ngomong, tapi kalo kejadian itu direkam dan diputer ulang kayanya bagus juga ye bas :p

  24. hidup adalah petualangan,., hehe

Leave a Comment