Suatu Ketika di atas Ferry menuju Waisai

Sampai juga kami di Sorong, setelah pesawat delay 20 menit dari Makasar. Saat itu kami berjumlah enam orang, Saya, Lita, Putra, Uci dan dua orang lagi yang belum kami ketahui keberadaannya merupakan kloter terakhir rombongan ke Raja Ampat hari itu (rekan kami yang lain sudah sampai lebih dulu di Waisai). Beberapa hari sebelum hari-H Sang PJ perjalanan sudah mengingatkan agar kami bisa “ngebut” sesampainya di Sorong karena kapal yang berangkat ke Waisai hanya ada sehari sekali. Hal itu pun sudah saya pastikan melalui browsing beberapa info dan forum backpacker, ga lucu banget kalo kami ketinggalan ferry dan mengakibatkan kami harus menginap semalam di Sorong.

Beberapa menit setelah formasi kloter lengkap, kami pun bergegas menuju Pelabuhan Sorong dengan menaiki mobil sewaan yang telah dipesan sebelumnya rasanya sempet deg-degan karena hanya tersisa satu jam sebelum ferry menuju Waisai berangkat. Sesampainya di Pelabuhan, kami langsung ngacir ke tempat pembelian tiket untuk menyetor nama lengkap karena ditulis di dalam tiketnya, sistem penjualan tiket pun masih manual, di samping bapak penjual tiket, terdapat satu orang lagi yang menghitung dan mencatat tiket keluar yang telah dijual beserta nomor bangku yang akan ditempati di atas kapal. Lega banget rasanya ketika tiket sudah di tangan, kami pun  dengan santai melenggang ke arah kapal yang akan membawa kami ke Waisai sambil sesekali foto-foto dan merekam video.

Siang itu suasana pelabuhan ramai, terdapat banyak orang yang bersiap-siap menaiki kapal. Kapal-kapal parkir menunggu kedatangan penumpang. Sesekali terdapat orang yang mengingatkan, “Ke Waisai naik kapal Bahari yang terluar ya…” pada kami.

Kami pun sampai di kapal yang dimaksud, tetapi ternyata di dalam kapal terdapat satu lagi orang yang menjual tiket kapal ke Waisai dengan jam yang sama. Saat itu masih positif thinking kalau jatah tiket memang sudah dibagi antara penjual di luar dan penjual di dalam, tanpa was-was kami langsung menuju ke lantai dua sesuai dengan petunjuk pengumpul karcis di pintu kapal dan menempati tempat duduk sesuai dengan nomor yang ada di tiket kapal.

Kapal yang akan kami naiki saat itu cukup kecil, tidak sebesar kapal ferry menuju Karimun Jawa atau kapal Ferry yang biasa saya naiki dari Batam ke Singapore. Terdapat dua lantai dan di lantai dua tidak terdapat penyejuk ruangan, nomor bangku tertera di atap masing-masing tempat duduk.

Menit demi menit pun berlalu, belum ada tanda-tanda kapal akan diberangkatkan padahal jam sudah menunjukkan 30 menit lewat dari jadwal keberangkatan, malah kapal makin penuh sesak, penumpang demi penumpang beserta barang terus menerus masuk, sebagian besar diantaranya bahkan hanya memiliki karcis yang tidak ada nomor tempat duduknya. Fix sudah kecurigaan saya bahwa tiket kapal ternyata dijual melebihi kapasitas dari kapal itu sendiri, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, banyaknya barang sudah menutup jalan masuk/keluar di pintu darurat, saya pun langsung kebayang beberapa berita mengenai tenggelamnya kapal akibat kelebihan beban. *merinding*

Lewat dari 45 menit tiba-tiba speaker kapal memberikan sebuah pengumuman,

“Saya adalah Kapten Kapal, ingin memberitahukan kepada penumpang yang tidak memiliki tempat duduk untuk pindah ke kapal sebelah dengan membawa seluruh barang bawaannya, Jika tidak, kapal tidak akan berangkat…”

Hening….

Saya celingukan melihat keadaan sekitar, para penumpang yang berdiri atau yang tidak mempunyai tempat duduk tidak ada yang begerak dari tempatnya, nampaknya pesan dari Pak Kapten tidak manjur alias dicuekin oleh para penumpang.

“Doh… makin lama ini berangkatnya…” Batin saya

15 menit kemudian tanpa ada perubahan, speaker kapal kembali mengeluarkan suara.

“Diberitahukan kepada seluruh penumpang untuk pindah ke kapal sebelah, karena kapal sebelah lebih besar dan kapal tersebut yang akan diberangkatkan…”

Kontan, semua penumpang langsung bergerak menuju pintu keluar dengan membawa barang bawaannya, pengumuman itu ternyata lebih manjur dibandingkan pengumuman sebelumnya. Semua orang terburu-buru, ingin cepat mendapatkan bangku di kapal sebelah. Beberapa orang menggerutu karena harus membawa ulang barang-barangnya yang berat dan banyak.

Sesampainya saya di kapal yang satunya, Lita sudah menunggu di tempat duduk, beruntungnya kami mendapat tempat duduk yang cukup nyaman di kapal yang ini, karena kapal lebih besar dibandingkan kapal sebelumnya, dan kabin kapal pun dilengkapi dengan AC beserta televisi yang menampilkan musik video (sayangnya kali ini music video yang diputar adalah music-musik dangdut oplosan beserta campur sari *tepokjidat).

Pengaturan ulang keberangkatan kapal kali ini ternyata diprotes oleh beberapa penumpang, bahkan ada beberapa penumpang yang tidak kebagian tempat duduk sampai berteriak-teriak kepada kapten kapal. Sang Kapten pun berang dan sempat memarahi beberapa penumpang yang mengambil tempat duduk tambahan untuk tas/barang bawaanya.

Saya yang sudah capek dan pusing karena musik yang diputar terlalu kencang memutuskan untuk memasang earphone dan menyetel musik saingan dari handphone saya, berharap pengaturan tempat duduk segera selesai dan kapal segera berangkat.

Akhirnya, nyaris dua jam dari jadwal seharusnya kapal pun diberangkatkan. Cerita kami yang tadinya ketar-ketir karena takut ketinggalan ferry berubah jadi ferry-nya yang ngaret karena pengaturan ulang keberangkatan akibat kelebihan penumpang. Tapi gapapa juga sih daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Safety comes first, buat temen-temen yang ingin traveling atau bepergian kemanapun, jangan hanya mengutamakan kesenangan, tapi ingat juga untuk berhati-hati. Kalo kata pesan yang ada di jalan-jalan “Ingat, keluarga menunggu di rumah..” hehehehe….

-Rie-

 

Related posts

Leave a Comment