Setengah Telanjang di Kamar Hostel

rekomendasi penginapan di Jeonju, Jeonju Guesthouse Gosadong, Penginapan di Jeonju, Review Jeonju Guesthouse Gosadong

Singapura, 2012

Hari itu, selesai menyerahkan final report dan berjalan cukup jauh diiringi dengan kaki yang lecet akibat high heels, sampai di hostel saya langsung tidur padahal baru lewat tengah hari. Ketika bangun, rasa malas membuat saya tetap tidur-tiduran di ranjang sambil membuka sms dari sepupu saya yang ada di Indonesia. Beberapa waktu kemudian, seorang pria masuk ke kamar, membawa koper besar dan melepas jaketnya.

“Hai” katanya.

Saya hanya balas dengan senyuman. Mood saya tidak begitu baik siang itu.

“Saya Jake dari Philiphines” katanya lagi sambil mengulurkan tangan.

“Rie” jawab saya singkat sambil kembali sibuk dengan handphone saya.

Are you Filipinos?” Tanyanya lagi.

No, I’m Indonesian” makin gondok karena dalam seminggu ini  saya ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh tiga orang berbeda di jalanan.

Do I look like pinoy? Karena kamu orang ketiga dalam seminggu ini yang bertanya seperti itu kepadaku” jawabku sambil menaikkan alis.

“I don’t know” Katanya menaikkan bahunya.

Saya menarik napas, “Lalu kenapa orang-orang menyangka seperti itu” kata saya acuh sambil memainkan handphone saya kembali.

Dia memperhatikan saya sebentar lalu berkata, “Mungkin, karena perempuan filipina itu cantik-cantik” katanya sambil nyengir.

“preett… sial lagi bête malah digombalin” batin saya antara pengen ngakak atau nimpuk ni orang pake hape.

“liburan? Atau kerja?” tanyanya lagi.

“dua-duanya” jawab saya sekenanya.

“saya berencana meeting untuk urusan bisnis, tapi yah saya tidak mendapatkan tempat yang lebih baik daripada ini karena dimana-mana penuh” katanya lagi, saya makin ilfeel.

Saat itu saya masih menginap di kamar dormitory sebuah hostel di bilangan Singapura karena masih menyelesaikan tugas-tugas untuk volunteer selama beberapa hari ke depan. Hostel ini menyenangkan, dekat dari mana-mana, membuat saya dapat berkenalan dengan banyak orang karena banyak turis silih berganti menginap di tempat ini dan petugasnya ramah, oleh karenanya selalu jadi andalan saya ketika berkunjung ke negeri singa ini. Tapi nampaknya si turis ini beranggapan sebaliknya.

Dia masih saja mengoceh mengenai hotel mewah tempatnya biasa menginap ketika saya akhirnya berkata,

“Memangnya bisnis apa yang kamu lakukan?” Tanya saya bermaksud untuk basa-basi. Dia berhenti mengoceh dan memandang saya dengan berbinar-binar, yang membuat saya langsung menyesal bertanya demikian.

“Saya mempunyai bisnis elektronik di Manila, bisnisnya sangat berkembang. Saya berencana untuk mengembangkan bisnis saya… blablabla” saya tidak mendengarkan sisa ocehannya karena mata saya kembali ke handphone.

“Ngomong-ngomong disini panas ya” katanya setelah mengoceh panjang lebar. Dia belum juga naik ke kasurnya yang kebetulan hari itu dia kebagian tidur di bunk bed yang berada di atas kasur saya. Dia pun mulai melepas kaos serta jeans yang dikenakannya dan hanya mengenakan celana dalam berwana hijau gelap. yes, you read it right, celana dalam hijau gilap. ewww…

Ebuset.. ni orang pede banget, mimpi buruk deh gue ntar malam. Batin saya dalam hati.

“Kamu tahu tempat-tempat menarik di sini?” tanyanya masih berdiri di depan kasur saya dengan hanya mengenakan celana dalam.

Duh.

“Lumayan.. yah Singapore kan kecil jadi gak terlalu banyak tempat yang harus diingat kan” jawab saya tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone.

Tanpa diundang, pria ini akhirnya duduk di kasur saya.

“Kasur-kasur ini semua penuh?” Tanyanya menunjuk 2 set bunk bed yang ada di kamar itu.

“Ada saya, teman saya disini dan kamu di atas nanti. Satu lagi belum terisi” jawab saya lagi.

“Oh.. yah lumayan tidak terlalu ramai ya” katanya sambil mulai merebahkan diri di kasur saya. Iya di kasur saya tempat saya sedang duduk di satu sisi dan dia di sisi lainnya. Sayangnya ini bukan kisah romantis pemirsah melainkan hampir menjadi cerita horor.

“Wow…wow..wow… man.. ente kalo mau tiduran bagusnya di kasur sendiri aja deh” begitu kira-kira kata saya kalau diterjemahin menggunakan Bahasa Indonesia.

“Gapapa lah.. sebentar doank, kasur di atas kan harus manjat segala” balasnya.

“Well.. begini ya, kasur ini sudah saya sewa untuk saya sendiri dan saya merasa tidak nyaman ada orang lain tidur-tiduran di kasur ini karena kasurnya kecil” kata saya mulai geram.

“Oh begitu ya” katanya terlihat kecewa.

Iyalah situ oke, situ Nicholas saputra. Pengennya bilang gitu tapi saya memilih diam saja sambil melotot ke si pria aneh itu.

“Oke” katanya beranjak dari kasur saya lalu memanjat ke kasur yang ada di atas. Sampai di kasur tersebut dia tidak lantas diam lalu tetap mengoceh mengenai bisnisnya, tempat-tempat di singapura dan banyak lagi yang tidak saya dengarkan karena saya langsung memasang earphone di telinga saya. Puas.

Setelah kejadian itu saya tidak berurusan lagi dengan orang itu karena menyibukkan diri dengan kegiatan volunteer saya sampai malam dan keesokan harinya dia sudah check out untuk pindah ke tempat lain yang kepergiannya tidak saya sesalkan sama sekali.

Selama traveling sudah lebih dari puluhan kali saya menginap di dormitory, baik yang woman only ataupun mix dorm. Sebagian besar pengalamannya menyenangkan, malah membuat saya mendapatkan banyak teman setelahnya, hanya ada beberapa kejadian unik yang terjadi namun hanya ini kejadian yang cukup melanggar batas kesabaran saya. Tetapi hal tersebut tidak membuat saya kapok kok. Selalu aware, tahu batasan dan tegas itu jadi pegangan saya, selebihnya aku sih selow wae. Jadi kalau kamu mau bepergian sendirian dan tinggal di dormitory mix, jangan takut ya, siapa tau kamu malah dapat pengalaman istimewa, eciee. 🙂

-Rie

Related posts

Leave a Comment