Pria Misterius di Dalam Antrian

Sedikit panik karena terjebak macet selama 3.5 jam dan kehujanan karena salah pintu masuk, akhirnya saya sampai juga di Stasiun Gambir. Kereta saya menuju Jogjakarta berangkat pukul 21.00 malam, sedangkan saat itu sudah pukul 19.30 lewat. Saya masih harus menukarkan voucer tiket di loket penukaran tiket karena tiket yang saya beli merupakan tiket yang dipesan online. Sampai di depan loket penukaran tiket, sempat sedikit panic karena antrian yang ada di depan loket tersebut mengular cukup panjang dan hanya satu loket saja yang buka malam itu. Saya pun mulai pasang antrian di urutan paling belakang. Beberapa menit berlalu, antrian tidak kunjung berkurang, akhirnya saya pun tidak tahan untuk tidak menyolek orang yang berdiri di depan saya.

“Mas, bener ga sih ini antrian untuk nuker tiket online?” Tanya saya pada sesosok mas-mas di depan saya.

“Iya bener” Jawabnya singkat, dia terlihat sedikit gelisah. Tak lama, dia keluar dari antrian dan menuju antrian paling depan. Sesaat kemudian, dia balik lagi untuk antri di depan saya.

“Beneran ini untuk nuker tiket online?” Tanya saya lagi ketika orang itu kembali berdiri di depan saya.

“Iye bener, barusan gue nanya, kekejar ga ni gue. Soalnya gue berangkat jam 8” Katanya acuh.

Saya pun melirik jam besar yang ada di atas loket antrian yang saat ini sudah menunjukkan pukul 19.50.dalam hati berguman, “Jam 8? OMG, yang bener aja”

“Sempet ga tuh mas, udah mau jam 8” kata saya lagi.

“hah? Emang loe mau kemana?” Tanyanya, nampaknya dia salah fokus menangkap pertanyaan saya.

“Saya? Saya mau ke Jogja, Mas. Maksud saya, masnya sempet ga tuh jam 8, sepuluh menit lagi udah mau jam 8 tuh” tunjuk sayake jam dinding yang tadi saya lihat.

“Oh, tadi si kata petugasnya si kekejar. Gue juga mau ke Jogja ko, naik Argo Lawu. Loe naik kereta apa?” tanyanya lagi.

“Oh saya naik taksaka, mas” Jawab saya akhirnya paham, karena kereta Argo Lawu bukan berangkat jam 20.00 tapi 20.20.

“Tadinya gue juga mau beli Taksaka tuh, tapi kehabisan. Lebih murah padahal” Kata Mas ini sedikit lebih heboh dari sebelumnya.

“Lumayan murah si, daripada Argo Lawu.”Kata saya.

“Loe ada acara apa ke Jogja? Kuliah? Atau kerja?” tanyanya.

“Ada acara, Mas. Tapi saya pernah kuliah disana ko. Masnya ada acara apa disana?”Tanya saya balik.

“Gue mau pulang, gue asli sana ko.” Jawabnya. Jawaban dia membuat saya sedikit heran, soalnya selama ini ketika bertemu dengan orang Jogja yang ada di luar habitatnya, mereka nyaris selalu menggunakan kata-kata penyebu tdirinya “Saya atau aku” jarangbanget ada orang yang menyebut “gue-elo” apalagi pas ketemuan pertama. Saya saja, sampai sekarang masih sering sekali kebawa-bawa “Saya-Aku-Kamu” dalam pembicaraan sehari-hari, walaupun sudah nyaris dua tahun meninggalkan Jogja.

“Oh, masnya kerja disiniya?”Tanya sayalagi.

“Iya, gue kerja di ___” dia menyebutkan salah satu lembaga pemerintahan yang ada di Jakarta.

“Oh, kuliahnya dimana mas?Ambil jurusanapa?” Tanya saya lagi.

“Gue kuliah di PNJ ambil jurusan desain” jawabnya dan akhirnya saya pun paham kenapa dia sudah fasih ber”gue-elo”, sudah lama cuy dia di Jakarta. Hahaha…

“oooohhh… ko bisa ngambil desain kerja disana?” Tanya saya lagi

“iya, lebih kebagian web si, jadi ada semacam commercial-nya atau iklan gitu untuk perusahaan-perusahaan, nah gue di bagian itu tuh” Jelasnya.

Akhirnya omongan kita berkembang dari mulai asal kuliah, rencana S2 sampai job desk di kerjaan masing-masing. Sampai akhirnya dia sudah sampai di antrian paling depan dan mengambil tiketnya. Setelah itu, dia tidak langsung pergi menuju keretanya melainkan menunggu saya mengambil tiket.

“Eh abis ini elo langsung naik ke atas kan?” tanyanya.

“Iye” Jawabsayasingkat.

“Okelah, gue tungguin aja, lumayan kan kalo di atas gue ada temen ngobrolnya, dari pada bengong sendirian.”Katanya lagi.

Setelah saya mengambil tiket, kami berdua menuju tangga untuk masuk ke peron di lantai dua, tapitiba-tiba dia nyeletuk.

“Eh mau beli makanan ga ni? Ga laper lo?” tanyanya.

“Engga, ntar aja deh di kereta” kata saya.

“Yakiiin..lumayan kali cemilan. Yuk beli aja” ajaknya lagi.

“yaudah deh terserah elo” jawab saya yang akhirnya menggunakan bahasa “elo-gue” setelah beberapa menit berinteraksi dengan orang ini.

Kami pun menuju salah satu toko makanan yang ada di sudut stasiun, dia berceloteh panjang lebar mengenai salah satu jenis makanan dan sesampainya di kasir menolak untuk menerima uang dari saya.

Setelah membeli makanan, kami berdua naik ke atas sambil si mas ini menjawab telepon dari seorang rekannya. Di lantai dua, sesaat setelah dia menutup telepon,

“Gue naik duluya” Katanya sambil mengulurkan tangan meminta high five.

Setelah membalas high five-nya, dia langsung ngeloyor keatas, meninggalkan saya yang masih menyusun puzzle pikiran saya.

“Lah mas ini tadi nungguin katanya maun gobrol, tau nama aja engga, trus nyampe atas ngeloyor sambil tos segala, kalo gitu ngapain dia pake beliin makan segala. “

Yah positif thinking-nya adalah, lumayan ketika laper ada yang beliin makan, tapi pesan yang mau saya sampaikan adalah, ketika kenalan, jangan lupa Tanya nama, nomor kontak juga kalau perlu, siapa tau di masa depan nanti ada urusan yang berhubungan sama dunia orang itu atau sekedar mau bilang makasih karena sudah ditraktir makan.

Buat mas-nya yang entah siapa dan entah dimana, makasi ya traktirannya. 🙂

-Rie

Related posts

Leave a Comment