PILIH ON TIME(MEPET), KECEPETAN ATAU NELAT??

On time, datang awal ataupun telat adalah pilihan setiap orang. Tiga-tiganya mempunyai masing-masing konsekuensi yang harus dihadapi. Dan lagi, dalam setiap perjalanan saya, ketiga hal tersebut merupakan pilihan yang harus kita ambil. Pilihan yang penting tentunya terutama jika berhubungan dengan jadwal transportasi yang akan membawa kita ke tempat tujuan.

Berikut ini saya akan menceritakan beberapa pengalaman saya mengenai ketiga pilihan tersebut ketika saya bepergian.

***_________***

Padang Bai, Januari 2010

“Kita duduk dulu aja, rie. Kapalnya masih lama koq. Sekalian minum. Kamu mau apa?” tanya Mas Samsi sambil duduk di dekat salah satu penjual minum di pelabuhan yang menghubungkan Pulau Bali dan Lombok.
“Ga usah aja deh, Mas. Aku ga haus koq” Kataku menolak tawaran dari teman yang ku kenal dari salah satu forum backpacker internasional tersebut.
Dia pun berdiri dan berbincang-bincang dengan salah satu penjual tiket yang ada di tempat kami duduk.

Ini adalah perjalanan saya ke Pulau Lombok untuk yang pertama kali, dan perjalanan perdana ini juga saya lalui seorang diri. Beruntungnya diri saya, dalam perjalanan kali ini banyak sekali yang membantu ketika saya melalui saat-saat sulit, salah satunya adalah Mas Samsi ini. Memang ini pertemuan saya yang pertama dengannya, namun beliau tidak ragu untuk mengantarkan saya dari Kuta menuju Padang Bai yang berjarak 2 jam perjalanan naik motor. Beruntungnya diri ini 🙂

Beberapa menit telah berlalu, Mas Samsi pun kembali ke tempat saya beristirahat (karena lumayan terasa pegel ketika harus menempuh jarak 2 jam naik motor)

“Kapalnya bentar lagi berangkat, Rie. Kamu beli tiketnya disana aja. Soalnya yang disini ga resmi” jelas Mas Samsi.
“Nanti masuknya lewat sini, trus langsung ke kapal” Jelasnya lagi sambil menunjuk pintu terdekat dari tempat kami duduk saat itu. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Jujur saja, saat itu perasaanku deg-degan bercampur senang dan semangat karena salah satu impian saya menginjakkan kaki di Pulau Lombok dapat terlaksana.
“Sekarang aja mendingan beli tiketnya, Rie. Daripada ntar telat” sarannya lagi.
“Oke mas, makasih banget yah udah ngerepotin. Makasih juga udah nganterin aku ke sini mas” kataku sungguh-sungguh sambil membenarkan letak ransel di punggungku.
“Ga masalah, tetep kontak ya Rie. Hati-hati di jalan” katanya sambil tersenyum.

 

Setelah bersalaman, saya pun segera bergegas ke loket pembelian tiket kapal fery yang akan mengantarkan saya ke Pulau Lombok tersebut.
“Masuknya lewat sana ya Mbak, tapi agak cepetan soalnya kapalnya mau berangkat lima menit lagi” Kata petugas penjual tiket setelah saya selesai membayar tiket tersebut.
“Oh iya yah Pak” seruku sambil menerima tiket dari petugas tersebut.
Begitu tiket sampai di tangan, bergegaslah saya menuju pintu yang tadi ditunjuk oleh si petugas. Sesampainya di dalam ruangan, saya mengikuti petunjuk arah yang sudah ada. Dan disinilah tragedy tersebut dimulai. Mata saya tak lepas dari petunjuk arah yang bertuliskan “MASUK KAPAL”, dan tulisan itu berakhir di sebuah tangga ke atas dan memanjang menuju fery itu berada. Karena tegesa-gesa, saya pun bergegas menaiki tangga tersebut.

“Kapal lewat sini, kapal lewat sini..” Kata seorang Ibu yang berdiri di depan tangga.
Saya yang sudah menaiki beberapa anak tangga kontan melongo melihat ibu tersebut karena selain berbicara bahasa tersebut, ia pun berbicara menggunakan bahasa Bali.
“Kalo mau naik kapal lewat sini, mbak. Dibilangin koq ngeyel” Kata Ibu itu lagi sambil menunjuk jalan setapak yang sama sekali tidak naik tangga alias lewat bawah.

NGUUUUUUUUNNGGGGG…..

Suara kapal membuyarkan lamunanku yang masih mencerna kata-kata ibu tadi. Tanpa pikir panjang, saya pun menuruni tangga yang sudah saya naiki, lalu bergegas menuju jalan yang ditunjuk sang Ibu tadi.

NGUUUUUUUUNGGGGGG…..

Kapal berbunyi sekali lagi, saya pun makin panik. Langkah yang tadinya emang udah cepet, akhirnya saya tambah kecepatannya lagi

NNGGUUUUUUNGGGGGGG……

Peluit ketiga dari kapal berbunyi, akhirnya saya pun berlari menuju kapal fery yang masih berjarak kurang lebih 30 meter tersebut. Pikiran saya kacau. Saya pun berlari seperti layaknya atlet lari cepat bedanya kali ini saya membawa tas carrier dengan ukuran segede gaban.

“haduuuhhhh… ketinggalan niiiiii” batinku sambil terus berlari

Perlahan gerbang kapal mulai tertutup, saya pun makin mempercepat lari saya.

“Eh Mbak. Mau kemanaaaa??” teriak seorang petugas penjaga gerbang pemeriksaan tiket yang saya lewati karena terlampau panic.
“anu Pak, mau naik” Kata saya sambil ngos-ngosan.
“Gerbangnya udah ditutup tuh” Kata petugas itu lagi
“ Yah Pak, terus kapan ada lagi kapalnya?” tanya saya sambil memelas
“ yah nanti satu atau dua jam lagi. Eh tapi tuh gerbangnya dibuka lagi” seru si petugas sambil menunjuk kapal fery yang dari tadi membunyikan peluitnya.

Kontan ketika melihat pintu gerbang terbuka saya pun kembali berlari menuju kapal tersebut.

“Eh Mbak, tiketnya manaaaa??” teriak si petugas sambil melambaikan tangannya.
“Eh iya Pak.. maaf..maaf” seru saya sambil balik lagi ke petugas tersebut lalu menyerahkan tiket dan secepat kilat kembali berlari menuju kapal setelah tiket tersebut diperiksa oleh petugas tadi.

Jarak 15 meter, pintu gerbang masih terbuka.

“Pelan-pelan Mbak….Pelan-pelan” Para Pedagang yang berjualan di sekitar pelabuhan yang saat itu kebetulan masih nge-tem disana meneriakiku.
“Dikit lagi mbaaakkkk, awas jatooohhh…” teriakan-teriakan tersebut bersahut-sahutan.

Jarak 5 meter, petugas penutup pintu gerbang kelihatannya sudah melihatku berlari-lari seperti orang gila dari ujung jalan tadi.

Jarak satu meter,

“hati-hati Mbak naiknya” kata orang-orang yang menontonku dari atas kapal”

Dan akhirnya setelah perjuangan tersebut, saya sampai juga di atas kapal fery tanpa nunggu kapal berikutnya. Ngos-ngosan sambil nahan malu, saya cuek beybeh langsung naik ke ruang utama di dalam fery yang akan mengantarkanku ke Pelabuhan Lembar, Pulau Lombok.

“nah, ini dia kempingers kita yang telat” Kata seorang penumpang yang tadi mungkin menontonku berlari-lari dari loket penjualan tiket.

Saya Cuma bisa senyum-senyum malu campur kesel membayangkan lari-lari ditonton orang banyak sambil bawa-bawa tas carrier segede gaban. Huuuhhh… ga lagi-lagi deh…

—-

Cemoro Lawang, April 2010

 

Udara malam itu semakin dingin, tapi karena mata belum ngantuk ditambah sedikit migrain akibat rute jalan dan “kehebatan” supir elf yang mengantarkan kami ke puncak cemoro lawang, akhirnya saya, Dimas, yasir dan Wisnu memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit ke sekitar losmen tempat kami menginap untuk mencari obat migrain sekaligus air minum dan juga rokok. Bagus yang saat itu tidak berminat untuk keluar kamar pun kebagian jatah untuk menjaga barang-barang yang ada di kamar.

Malam itu langit terlihat cerah. Bintang-bintang bertebaran dengan sangat jelas, bulan purnama menampakkan kecantikannya pula malam itu. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa. Kami tiba di sebuah warung yang berada tepat di samping penginapan. Saya, Dimas dan yasir menunggu wisnu di luar warung tersebut sambil menatap indahnya langit malam itu.

“Sayang ga bisa di poto pake holga ni, ga keliatan bintangnya” Kata Dimas.
“ Pake teleskop baru keliatan. Tapi emang keren banget langitnya yaaaaa….” Kataku sambil tak henti-hentinya memandangi hamparan langit berhias bintang di atas sana.
“Emang ga ada tandingannya lah” Kata Yasir.

Beberapa saat kemudian datanglah Supir Elf yang tadi mengantarkan kami dari Probolinggo ke Cemoro Lawang. Sebut saja namanya Pak Hadi

“Mbak, besok kalian kan berlima yah naik jeep-nya. Kalo digabung sama satu orang bule gimana? Nanti saya balikin uangnya 30.000” Kata Pak Hadi
“Oh iya gapapa, Pak” Kataku
“oke, saya bilangin sama supir jeep nya dulu yah” Pak Hadi pun beranjak pergi dari tempat kami saat itu.

“Kenapa tuh si Bapak?” Tanya wisnu yang baru saja keluar dari warung.
“katanya besok, kita mau digabung sama satu orang bule pas naik jeep” Jelas Yasir
“Bule nya cewek atau cowok? Hehehe” tanya Wisnu lagi
“ Ga tau, dia ga ngasih tau. Mudah-mudahan cowok.. hahaha” jawabku sambil mengambil botol air yang dibawa oleh Wisnu.
“Tuh Bapaknya datang lagi, tanya aja” Kata Yasir, sambil menunjuk si Bapak yang mendekat dengan dagunya.

“ Gapapa yah Mas, besok jadinya berenam. Itu bule nya sendirian soalnya. Dari Belanda dia. ini kembalian 30.000 nya” Jelas Pak Hadi sambil menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribuan kepadaku.
“Asiiiikkkkk…. Tambah temen dari belanda deh” Sahut Wisnu girang, wisnu memang sedang cinta-cintanya dengan segala hal berbau belanda terutama mengenai pendidikan di Belanda.
“Emang bule nya cowok ato cewek Pak?” Tanyaku
“Bule nya cowok. Gitu aja yah mbak, besok di jemput jam 3 looh. Selamat malam” Kata si Bapak sambil pergi meninggalkan kami bermpat.
“Hehehe… asiiikkk.. tuh kan cowok..” Kataku sambil nyengir

Yasir dan Dimas hanya bisa geleng-geleng saat itu.

“yang penting bisa nanya-nanya tentang belanda” Kata wisnu sambil nyengir
“Yowis, ayo tidur, besok bangun pagi” kataku. Akhirnya kami berjalan menuju losmen untuk beristirahat supaya besok pagi bisa fresh kembali.

KEESOKAN PAGINYA

Alarm ku berbunyi pukul 02.30 tepat. Migrain yang semalam serasa menusuk kepalaku hilang sudah karena obat yang saya minum semalam. Ketukan tiga kali di pintu menandakan bahwa sang supir jeep sudah menunggu di depan kamar. Sementara menyadarkan diri, saya lihat empat orang laki-laki ini masih tertidur lelap.

“Woy pada banguuuunnnn…. Tuh bapak supirnya udah nuggu di depan. Ayo buruan” Seru saya disambut dengan geliat dari empat orang rekan saya ini.
“Jam berapa si ini?” tanya Bagus yang lebih dulu sadar dibandingkan yang lain.
“Setengah tiga. Jam tiga kita berangkat, jadi ayo siap-siap. Temenin aku ke kamar mandi juga. Hehehe” kataku pada Bagus.

Akhirnya kami beranjak ke kamar mandi dan meninggalkan tiga orang lainnya yang masih bergeliat-geliat mengumpulkan kesadarannya.

Setengah jam kemudian, kami sudah hampir siap.
“Pada bawa tas ga sich?” tanya Wisnu
“Kaga, ngapain pake bawa segala” Kataku
“Aku bawa koq” Bagus menimpali
“Aku juga” Kata Yasir dan Dimas bebarengan.
“Ya udah, aku nitip di tempatmu aja ya” Sontak Wisnu dan aku menyerahkan beberapa barang yang perlu di bawa pagi itu menuju Puncak Bromo.

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami mengunci pintu kamar losmen yang kami tempati malam itu.
“nih kuncinya jangan sampe ilang yaaa” Kataku sambil memasukkan kunci ke dalam tas yang digendong oleh Dimas.
“Diingetin aja nanti Mbak” Kata Dimas.

Beberapa menit kemudian kami pun telah siap untuk berangkat ke Puncak Gunung Bromo. Setelah mengatur posisi di dalam Jeep, kami pun berangkat menggunakan jeep yang kami sewa pulang-pergi itu.

 

BEBERAPA JAM KEMUDIAN

 

“Wah asiiikk… kapan-kapan kesini lagi ah” Kata Dimas
“bener banget, emang keren lah pokoknya” tambah Yasir
“ternyata kalo dari kawah ke losmen deket juga ya” Kataku
“tapi lumayan kalo jalan kaki, mbak” Kata Wisnu

Perjalanan pulang dari Puncak Bromo sampai ke penginapan hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit. Sesampainya di depan losmen, Pak Hadi sedang duduk di halaman losmen.

“Mbak, tadi gimana to. Itu bule nya ketinggalan” Kata si Bapak
“Lah buseeett… kirain ga jadi Pak” Kata wisnu
“Bener kan feeling gw tadi pagi, ketinggalan tuh bule” Kataku
“Tadi pagi dia nyampe beberapa menit setelah jeep nya pergi. Dia marah-marah sama saya ni” jelas Pak Hadi.
“kirain tadi sekalian jemput bulenya, Pak. Kami ga tau kalo harus nungguin sama bangunin dia juga. Kirain Bapak udah bilang ke supir jeep-nya” Kataku
“lagian tadi kami lumayan lama juga bangunnya, dia aja tuh yang kesiangan” sahut bagus ga mau kalah
“Ya udah deh, tapi yang 30.000 semalem saya kasih, dibalikin lagi ya. Kan bule nya ga jadi ikut jeep. Tadi saya cariin ojek untuk dia pagi-pagi” Jelas si Bapak.

Kami Cuma bisa nyengir sambil geleng-geleng kepala mendengar cerita dari si Bapak tersebut.

 

——
Pelabuhan Kartini, Jepara. Desember 2009

 

“Kita naik becak aja yah” Kata Atok seketika keluar dari hotel tempat kami bermalam.
“Ditawar tapi nya, jauh ga sich pelabuhannya dari sini?” Tanya Rini
“ Katanya si Cuma 10 sampe 15 menit. Semalem aku nanya sama mas-mas yang nyariin hotel” Jelas Atok

Saat itu jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Saya, Rini dan Atok berencana melanjutkan perjalanan ke Karimun Jawa, tempat tujuan kami liburan kali ini. Jepara merupakan kota transit kami sebelum melanjutkan perjalanan ke Kepulauan yang berada di utara Pulau Jawa tersebut.

Pagi itu, memang kami berencana berangkat awal agar tidak tertinggal kapal yang akan membawa kami ke Karimun Jawa, alasan yang logis mengingat kapal yang pulang-pergi ke gugusan kepulauan itu hanya ada dua kali setiap minggunya. Bisa dibayangkan jika kami telat, batal lah rencana kami bersenang-senang menikmati keindahan pulau yang selama ini hanya bisa diliat di web, televisi dan buku saja.

Saya yang keluar dari pelataran hotel paling awal menghampiri tukang becak yang mangkal di depan hotel tersebut.

“Bang, ongkos kalo sampai pelabuhan berapa bang?” Tanya saya
“Empat puluh lima ribu, Mbak” Katanya langsung.
“Idih, mahal amat bang” Kata Rini yang sudah ada di belakangku
“Murah itu mah, Mbak. Ntar bertiga langsung gapapa” Kata Tukang becak itu lagi.

Atok yang sudah sampai di belakang saya pun berbisik kepada saya dan Rini.
“Ntar aja lah naik becaknya, kita foto-foto dulu di kota. Baru ke pelabuhan, lagian mahal amat ongkosnya. Kata orang-orang deket koq pelabuhannya dari sini” Bisik Atok.
“Oh ya udah” sahutku
“Pak, ga jadi aja deh, kami mau jalan-jalan dulu aja” Sahutku
“Dianter aja sama saya Mbak, ntar saya anterin ke tempat-tempat bagus” Si tukang becak mulai ngotot.
“Engga deh, Pak” sahutku sambil mulai ngacir dari tempat ngetem si tukang becak tadi.

Kami bertiga pun segera angkat kaki dari tempat tersebut. Berjalan perlahan menuju tugu kartini yang berdiri megah di perempatan jalan di dekat tempat hotel kami menginap. Pagi itu, kota jepara terlihat masih sangat lengang. Hanya ada satu-dua motor yang lalu lalang di jalan raya yang kami lalui. Para penduduk kota seakan masih tertidur di peraduannya masing-masing.

Satu hal yang saya amati mengenai kota Jepara ini. Kebanyakan bangunan yang terdapat di kanan kiri jalan sepanjang jepara mempunyai ukiran yang unik. Mungkin karena jepara memang terkenal dengan ukirannya kali yah.

Berjalan menuju Tugu Kartini hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dari depan hotel. Setelah sampai, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk foto-foto di depan tugu itu.

“Eh Tok, tukang becaknya ngikutin kita tuh” Kataku waswas sambil melihat sekilas ke arah tukang becak yang tadi sempat kami tolak.
“ Biarin aja, santai. Lagian mahal banget” Kata Atok santai

Tukang becak yang sejak dari hotel membuntuti kami pun akhirnya nyerah karena kami tetep cuek beybeh dengan kehadirannya. Akhirnya sang tukang becak itu pun pergi menjauh mengayuh becaknya ke tempat lain.

Setelah kehabisan pose untuk berfoto-foto ria, kami bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari becak dengan harga yang masuk akal. Kurang-lebih berjalan sekitar sepuluh menit, kami menemukan beberapa tukang becak yang sedang nge-tem di pinggir jalan. Atok yang saat itu kebagian jatah untuk menawar harga becak pun langsung menghampiri tukang becak tersebut.

“Pak, kalo dari sini ke pelabuhan berapa ya ongkosnya?” Tanya Atok
“Sepuluh ribu, Mas” Jawab si Bapak

Hehehehe… akhirnyaaaa…. Kami tersenyum mendengar si bapak tukang becak yang baik hati ini. Akhirnya nemu juga tukang becak yang ngasih harga masuk akal.
“Ya udah Pak, 2 becak ya ke Pelabuhan” Kata Atok lagi.

 

Akhirnya kami pun naik dua becak yang berlainan. Saya dan rini naik satu becak bersama-sama sedangkan Atok naik becak yang lainnya. Sepanjang perjalanan menuju ke Pelabuhan tersebut, kami tentu saja tidak lupa mengabadikan setiap momen yang kami lewati. Saat itu masih pukul tujuh kurang, perlahan kehidupan di Kota Jepara mulai terlihat. Beberapa orang mulai ada yang keluar dari rumahnya untuk memulai aktivitas di akhir minggu tersebut.

Lima belas menit kemudian, sampailah kami di Pelabuhan. Kerumunan mulai tampak di depan loket tiket tempat membeli karcis kapal fery yang akan mengantarkan kami ke Kepulauan Karimun Jawa. Becak yang saya dan Rini tumpangi berhenti tepat di depan loket tiket. Sedangkan becak yang Atok tumpangi tetap meluncur sampai gerbang masuk menuju kapal.

“Eh Mas…Mas… beli tiket dulu” Seru penjaga gerbang yang melihat becak yang ditumpangi Atok dengan santainya terus meluncur.

Si tukang becak itu pun memberhentikan becaknya dengan tiba-tiba setelah diteriaki oleh petugas. Saya dan Rini Cuma bisa nyengir melihat peristiwa becak tersebut. Setelah membayar becaknya, Atok menghampiri kami sambil senyum-senyum.

”Asem.. isin aku” Kata Atok yang langsung disambut oleh gerai tawa dari ku dan Rini
“Lagian abangnya metal banget, udah tau portalnya masih ditutup, dia maen langsung terabas aja. Banyak orang lagi” Katanya lagi. Sambil masih nyengir, saya pun menghampiri loket tiket yang mulai ramai oleh kerumunan orang lalu kemudian membeli tiga tiket untuk menyebrang.

Kapal yang bernama K.M Muria ini merupakan salah satu angkutan laut yang akan membawa penumpang dari Jepara menuju Karimun Jawa. Sebenarnya ada beberapa alternatif angkutan untuk menuju ke Kepulauan Karimun Jawa. (Dalam hal ini, saya sedang dalam proses membuat tulisan mengenai hal ini, jadi ditunggu saja tulisan berikutnya)

Perjalanan Jepara-Karimun Jawa membutuhkan waktu 6 jam jika menaiki K.M Muria ini. Kapal yang dijadwalkan berangkat pukul 09.00 ini di prediksi kan akan sampai di Karimun Jawa pada pukul 15.00.

Memang saat itu masih pukul 07.00 pagi, terlalu cepat 2 jam dari waktu keberangkatan. Tapi maklum, saat itu kami bertiga belum dapat informasi yang akurat mengenai keberangkatan kapal dan juga karena agak parno tidak dapat tempat duduk di dalam kapal, akhirnya setelah membeli tiket, kami langsung naik ke kapal untuk nyari tempat dengan posisi paling strategis.

 

DUA JAM KEMUDIAN

“Jam berapa rie?” Tanya Atok
“ Jam Sembilan lebih lima belas” Jawabku singkat
“Aku lapeeerrr… harusnya tadi makan dulu sebelum naik” Kata Atok
“Sama, aku juga laper, tok” Kata Rini
“Tu ada kantin, kesana aja” Kataku menunjuk kantin yang ada di dalam kapal
“Nanti aja deh kalo udah jalan kapalnya” Kata Atok

NGUUUUUNNNGGGGGGG

 Peluit kapal berbunyi untuk yang kesekian kalinya
“Dari tadi bunyi ngung terus tapi koq ga berangkat-barangkat si” Kata Rini
“Yah begitulah, tanya aja sama nahkodanya” Jawabku asal
TIGA JAM KEMUDIAN

“Jam Berapa Rie?” Tanya Atok lagi untuk ke sekian kalinya
“ Jam sepuluh lewat banyak” jawabku
“Haduh, saya sudah mulai emosi ni. Kapalnya ga asik” Kata Rini

Beberapa saat kemudian terdengar suara pengumuman dari awak kapal
“Mohon maaf, K.M Muria mengalami keterlambatan karena masih mengurus ijin berlayar dari kepala pelabuhan”
Suara sayup-sayup dari mikrofon itu disambut gaduh oleh sebagian besar penumpang kapal.

“Yaelaahhh, ngurus ijinnya koq baru sekarang si” Kataku yang mulai kesemutan karena sudah tiga jam duduk ditambah belum sarapan pagi.
“Payah..payah..” sahut Rini

TIGA JAM SETENGAH KEMUDIAN

NGUUUUNGGGGGGGGG
“Ngung..ngung.. tapi ga berangkat berangkat. Saya mulai gila di dalam kapal” Celoteh Rini
“Tapi kapalnya bergerak, Rin” Kataku melihat ke arah bawah kapal, kebetulan saat itu saya duduk di bagian paling pinggir kapal.
“Iya po?” Tanya Rini penasaran
Perlahan namun pasti, kapal mulai bergerak sedikit demi sedikit dan akhirnya berlayar menuju ke tujuan akhir yaitu Kepulauan Karimun Jawa. Akhirnya setelah penantian dari jam 7 pagi hingga pukul 10.30 tersebut, kami bisa menyaksikan pemandangan indah dari kapal yang bergerak menuju laut lepas tersebut.

***________***

Yah. Memang datang awal, datang tepat waktu ataupun datang telah adalah pilihan dari setiap orang. Cuma dari ketiga pengalaman saya di atas mengenai hal itu. Ada beberapa tips jika kamu-kamu semua ingin perjalanan yang kamu lakukan tetap nyaman.

1. Pastikan kamu tau jadwal yang tepat dari transportasi yang akan kamu gunakan. Cari informasi sebanyak-banyaknya sebelum kamu berangkat. Selain harga tiket, cari tahu juga jadwal berangkat dan tiba dari transportasi tersebut.

2. Kalau memang naik transportasi yang harus melakukan konfirmasi terlebih dahulu(misalnya pesawat), lebih baik datang satu jam lebih awal.

3. Kalau perjalanan yang akan dilakukan memakan waktu yang cukup lama, pastikan bahwa kamu sudah makan terlebih dahulu. Syukur-syukur bisa bawa makanan pengganjal perut untuk di dalam kendaraan nantinya. (Hal ini berguna apalagi kalau tidak ada kantin di dalam kendaraan tersebut)

 4. Kalau memang datang terlalu awal, tidak usah tergesa-gesa masuk ke dalam kedaraan. Hal ini terbukti dapat menurunkan mood dan menaikkan emosi 😀
5. Cari tau dengan pasti jarak antara penginapan dengan tempat naik kendaraan beserta ongkos yang digunakan dari penginapan ke lokasi. Hal ini tentunya berguna untuk jadi patokan dan mencegah diri kita dikibulin.

 

Itu adalah beberapa tips versi saya, semuanya sekarang ada pada diri kamu sendiri. Mau datang lebih awa, on time (alias mepet waktu) atau telat. Semuanya punya resiko yang harus dijalani., dan tentunya bagaimana menyikapi hal tersebut yang paling penting.

 

Pilihan ada di tanganmu 🙂

Related posts

22 Thoughts to “PILIH ON TIME(MEPET), KECEPETAN ATAU NELAT??”

  1. rie,,,asyik ya travellingnya…jadi pengen….

  2. hai fony, apa kabar? hehehe… asik..asik.. kapan-kapan kita traveling bareng laah.. (ntar sekalian kalo mampir surabaya lagi) 😀

  3. mbaaakkkkkkkkkkk…mau naik mobilnya..ahhahaha

  4. waah.. mb rizka pemberani banget :Djadi pengeen um,,3 hal itu..dilema besar bangeet :Pnek manda milih kecepetan (tapi juga g'mw kelamaan nunggu).ehhenice post ^^

  5. @Anonim: boleh..boleh.. kapan-kapan maen aja ke bromo.. :D@Manda: hihihi… tiga-tiganya asik dan seru koq, tergantung bagaimana menyikapinya aja 🙂

  6. iyoo mba.. seru… dan palingan tergantung rasa juga… hahanek seneng cepetan,, nek g'suka nelaat wae..nek biasa aja yaa on time..hehe*agak geje 😛

  7. aje gile.. pangen ke lombok nih.kapan2 ke karimun ah kalo pas liburan di pati :p

  8. eh maksudnya ke bromo dulu :hammers

  9. hahaha.. ho oh…tapi siap-siap aja sama semua konsekuensi nya..*jadi tidak sabar untuk perjalanan berikutnya*hahaha.. :ngakak

  10. @rahmanu: wow.. ke bromo seru, ke karimun jawa lebih seru(soale bisa snerkeling) heheheharus nyoba semuanya nu :p

  11. wah…kapan2 SAYA MUSTI di ajak lah mbaaa….oke2….itu bromonya kurang ah..poto2nya banyakan mba ketimbang aku…(nasib orang yg punya kamera gtu kali ya…)

  12. @Wisnu: ahahay.. mari kita menjelajah kembali. aku udah nyiapin beberapa rencana traveling euy. eniwei, potonya menyusul deh. modemku kurang oke kalo untuk hal nguplot foto 😀

  13. HAHAHAHAHHA…. Like This 😀 aku suka kmu punya blog ini *jadi pengen bikin*. ada akunya pula hahahaha 😀 aku inget banget riz.. karimun jawa dan itu bener2 liburan paling berkesan seumur idup 😀 aku ngakak baca postingan ini =)) inget tukang becak gila yang bgikutin kita… -WiDiW-

  14. @Atok: betul sekalee, memang karimun jawa ga ada matinya deh… mari kita menjejak lagi.. 😀

  15. hahay bagus keren2x jadi mau ke karimun jawa, tapi aje gile aje tuh tukang becak masa naek becak 45 ribu hahahay mending beli nasi angkringan pak yanto tuh dapet banyak hahahayyazier

  16. @yasir: malaaahh.. hahaha.. ntar rencana mau ke karimun lagi bareng bagus dankawankawan.. hehe.. mau gabung?? ayoayoooo 😀

  17. Seru ya… Jadi pengen gentayangan lagi nih. Hahaha.. Tapi kmu hebat riz! Semoga makin banyak perempuan kaya kamu! Ayo nulis lagi 😀

  18. @Kang Iyos: wew jadi terharu(halah..) ntar kalo nulis lagi pasti ku tag deh Kang :Dkapan-kapan kita nge-trip bareng ya ^_^b

  19. Asik boi, bacanya.. gw milih pas gw telat, kendaraannya blm brgkat, pas gw in-time, ga lama kendaraanya brgkat, pas gw on-time, gw nya nggak keburu2.. hahaha..gw pilih being an in-time person aja deh.. bisa antisipasi kalo ada apa.. mencegah hal2 yg tidak diinginkan juga dan bisa punya waktu untuk tanya2 ttg hal2 yg ga jelas..anyway, thanks for the tips! 🙂 -anneis-

  20. @Anneis: yeee… itu mah semua orang juga mau.. hahaha 😀

  21. tinggalin jejak aahh :p
    dilema emang mbak mau ontime atau kecepatan atau malah telat. galaaaauuu hahaa

    1. hahaha… suka lebai deh… etapi terserah dink, apa aja boleeeh :p

Leave a Comment