Pesan tak tersampaikan, Tekor di Jalan…

Siang itu sedang panas-panasnya di Nha Trang, maklum, sebagai salah satu kota pantai, iklim yang ditawarkan oleh kota ini merupakan iklin ciri khas kota pantai yang panas dan menyengat. Hari itu adalah hari terakhir kami berada di kota Nha Trang sebelum akhirnya melanjutkan perjalan kami ke kota Hue.

Saya dan Arni memutuskan untuk menyewa sebuah sepeda motor untuk mengelilingi kota ini, dan karena saya sedikit kapok naik sepeda motor di Vietnam, jadilah Arni yang akan mengemudikan motornya berkeliling kota.

Efek panas ternyata bukan hanya berpengaruh pada badan saja, tetapi juga pada tingkat emosi kami berdua, selain kepanasan, saya (mungkin Arni juga) merasa sedikit bad mood hari itu.

Sesampainya di tempat penyewaan motor, mulailah kami bertanya kepada yang menyewakan motor, setelah deal harga hal berikutnya yang kami tanyakan adalah mengenai bahan bakar yang ada.

“ini masih ada bensinnya ga ya?” tanya Arni

“masih, tapi sebaiknya langsung diisi saja di pom bensin terdekat karena bensinnya sudah tinggal sedikit sekali” Kata si Ibu yang menyewakan motor.

“Pom bensinnya dimana?” tanyaku

“nanti setelah ketemu pantai, lurus saja ke kanan, pom bensinnya ada di sebelah kanan jalan” Jelas si ibu.

“Kira-kira berapa jauh dari sini?” tanya saya lagi

“Sekitar 2 atau 3 kilometer” Jawab si ibu, saya dan Arni saling pandang, sanksi kalau-kalau motor ini mogok di tengah jalan.

“bener nih cukup sampai sana?” tanya saya lagi.

“bener” jawab si Ibu yakin.

Akhirnya dengan berbekal keyakinan si ibu, kami pun berangkat mengendarai sepeda motor. Belokan pertama, kami sudah menemui pantai kota Nha Trang. Salah satu pantai yang disebut-sebut sebagai salah satu teluk terindah di dunia itu memang layak dikunjungi. Kota Nha Trang juga salah satu kota di Vietnam yang cukup ramah kepada wisatawan karena penduduk lokal yang dapat berbicara bahasa inggris cukup banyak, tidak seperti kota-kota vietnam yang saya kunjungi sebelumnya.

Setelah sampai di pinggir pantai, kami membelokkan motor sesuai dengan petunjuk si ibu penyewa motor, namun tak sampai 500 meter kecepatan motor mulai melambat, lalu mati. Sial, batinku dalam hati. Nampaknya Arni juga kesal karena hal ini.

“hadeehhh… gimana ini” tanyaku

“pom bensinnya dimana lagi” tanya Arni.

“ya udah tuntun dulu aja lah” kataku.

Siang yang panas itu bikin kepala kami makin panas juga, sudah beratus-ratus meter menuntun namun belum ada tanda-tanda pom bensin di sekitar sana. Tiba di tikungan selanjutnya, tiba-tiba ada seorang tukang ojek yang menghampiri kami.

“Sory, tahu ga dimana pom bensinnya ya?” tanyaku pada si abang ojek tersebut.

Dia nampak sedikit bingung, namun langsung mengangguk tanda paham akan kata-kataku.

“oh iya, sekitar 2 kilometer dari sini” katanya dengan bahasa inggris yang terbata-bata diikuti oleh bahasa tangannya.

Aku menoleh pada Arni, lalu berkata, “loe tunggu disini aja ni, gw yang kesana beli bensin, daripada ngedorong 2 kilo” kataku pada Arni, Arni Cuma ngangguk-ngangguk.

“Bisa antar saya ke pom bensin? Nanti kesini lagi untuk ngisi bensinnya.” Kataku pada si abang ojek.

Dia diam sesaat, mengatakan sedikit bahasa vietnam yang saya tidak mengerti sambil melambaikan tangan pada Arni dan menunjuk kakinya. Saya mulai mencerna bahasa isyarat yang dilakukan oleh si abang ojek tadi.

“maksudnya apaan ni?” tanyaku pada Arni

“dia mau ngedorong motornya kali” Jawab Arni menerka-nerka

“dikau mau ngedorong motornya sampai pom bensin?” tanyaku pada si abang ojek lagi sambil menunjukkan sebuah bahasa isyarat juga, nampaknya ia mengerti dan langsung mengangguk.

Arni langsung naik ke motornya dan saya naik ke motor yang ditumpangi oleh abang ojek tersebut, sesaat kemudian dua motor yang kami naiki berjalan beriringan menuju pom bensin terdekat. Ternyata jarak pom bensin dari tempat kami berhenti lumayan jauh. Tak lama, sampai juga kami di pom bensin yang dimaksud si abang ojek tadi.

“Jangan banyak-banyak isinya ya, kita kan cuma tinggal setengah hari disini” kata Arni.

“Oke” saya pun menuju ke salah satu petugas di pom bensin tersebut yang sedang bercakap-cakap dengan si abang ojek yang membawa kami ke tempat itu.

“tolong isi dua liter ya” kataku pada si petugas, si petugas nampak sedikit bingung lalu menoleh pada si abang ojek yang menyahut dengan bahasa vietnam. Si petugas itu lalu nyegir dan mengangguk.

Arni membuka jok motor lalu petugas tersebut memasukkan selang bensin ke dalam tangki bensin motor. Mata saya terpaku pada alat hitung yang ada di mesin pengisi bensin tersebut, tapi kok angkanya tidak berhenti di angka 2 liter, si abang ojek masih nyerocos dengan yakinnya menggunakan bahasa vietnam yang saya dan Arni ga ngerti artinya. Mesin baru berhenti ketika tangki bensin motor penuh. Saya dan Arni cuma pandang-pandangan heran dan kesel campur geli.

Mau ga mau kami harus membayar uang bensin lebih banyak dibandingkan yang sudah kami budgetkan. Setelahnya si abang ojek dan si petugas pom bensin tadi nampak puas dan tersenyum pada kami.

“yaudahlah, mau gimana lagi” Kata Arni, saya cuma menarik napas.

“Kita puasin muter-muter aja, ngabisin bensin” kata saya, sambil naik ke motor lalu capcus dari pom bensin itu setengah gondok.

Hari itu, walaupun kami sudah muter-muter Kota Nha Trang seharian, bensin motor yang kami naiki cuma turun sedikit saja sampai kami kembalikan ke rental motor. Komunikasi itu penting, walaupun dengan bahasa isyarat, dan ketika kamu menemui hal serupa dalam perjalanan traveling kamu, ingat, pastikan pesan kamu tersampaikan dan diterima dengan baik, kalau tidak, bisa tekor jadinya.

There’s always a lesson in every journey

Mari jalan-jalan 😀

-Rie-

Related posts

4 Thoughts to “Pesan tak tersampaikan, Tekor di Jalan…”

  1. hokya hokya, semacam salah paham nampaknya. harus sering main kuis komunikata hahahahahaa

    1. yoi mameeen.. hahaha… semacam dudul namanya 😀

  2. @i5samayoga

    kalo pake kertas di tulis 2 liter, ngerti gak ya??

    1. belum di coba tuh, ntar kapan pas maen kesana lagi dan nyewa motor lagi ajah deh.. ahahaha

Leave a Comment