Misteri Makanan di Atas Ferry VIP

Ferry ke Pulau Weh, Ferry ke Sabang, Ferry dari Banda Aceh

Masih subuh kala itu tapi kami sudah heboh packing dan bolak-balik ke resepsionis memastikan bahwa mobil jemputan yang kami pesan datang tepat waktu.

“Mbak makan saja dulu, sudah disiapkan di restoran” kata salah satu petugas resort.

“Oke, kabari ya kalau mobilnya sudah datang” kata saya sambil menuju kamar untuk memanggil kedua rekan saya.

Hari itu masih terhitung long weekend dan kapal yang mengangkut penumpang dari Pulau Weh ke Banda Aceh sangat terbatas. Wisatawan yang datang berkunjung ke Pulau Weh pun jauh diatas jumlah normal harian sehingga jumlah tiket yang dijual sudah sold out untuk penyebrangan hari ini, padahal hanya ada dua kali saja jadwal penyebrangan per hari. Saya dan rekan-rekan saya sudah memegang tiket untuk penyebrangan pagi ini, namun tetap sedikit was-was karena di beberapa kesempatan jumlah tiket yang dijual melebihi jumlah kursi yang tersedia. Walaupun kali itu kami memesan tiket VIP. Teringat pengalaman saya ketika menyeberang ferry dari Sorong ke Waisai dimana tiket dijual jauh melebihi kapasitas kapal sehingga kapal harus diganti menjadi kapal yang lebih besar agar kami bisa menyeberang.

“Kita sarapan disini nih? Gak di kapal aja?” Tanya Rifqi.

“Iya di kapal, ngopi aja gue biar gak ngantuk” jawab saya.

Beberapa saat kemudian mobil jemputan kami siap dan akhirnya kami berangkat ke pelabuhan. Benar saja sudah banyak orang yang mengantri di pintu masuk kapal padahal kapal masih dibersihkan dan belum boleh ada yang masuk. kami pun ikut mengantri di belakang orang-orang yang sudah ada.

Tak lama pintu gerbang dibuka dan orang-orang berebut untuk masuk ke kapal. Duh emang gak enak kalau sistemnya belum bagus, mau masuk kapal tidak ada check in terlebih dahulu dan masih simpang siur mengenai jumlah tiket versus kursi yang tersedia. Kami menuju lantai atas sesuai dengan tulisan penunjuk ruang VIP dan begitu sampai di nomor tempat duduk ternyata sudah ada yang menduduki bangku kami.

Sorry Pak. Bapaknya tiketnya nomor berapa ya? ini nomor bangku saya” Kata saya kepada orang-orang di bangku tersebut.

“Gapapa Mbak, boleh duduk dimana saja” serobot orang yang duduk di seberang bangku itu.

“Oh gak bisa mas, saya mau duduk disini karena ini nomor saya. Bapak duduk di belakang sesuai nomornya” kata saya tetap ngotot. Si Bapak dan rombongannya pun langsung angkat kaki dari bangku itu.

“Hajar Ka” Kata Agga cengengesan. Kami bertiga akhirnya duduk di bangku sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Orang yang duduk di bangku deretan sebelah masih saja mengoceh mengenai bolehnya penumpang duduk tidak sesuai nomor tiket namun kami cuek saja. Lha wong ini hak kami kok.

“Kita beneran dapet makan di sini kan?” Tanya Agga.

“Beneran” jawab saya yakin. “Kemaren gue nanya, bedanya tiket bisnis sama VIP itu apa, katanya kalo VIP dapet makan” tambah saya lagi.

“Tuh udah ada kotakannya bro” Kata Rifqi menunjuk meja yang terletak di depan deretan bangku penumpang yang diatasnya disusun kotak-kotak makanan.

Ferry ke pulau weh, ferry ke sabang, ferry dari banda aceh
Kotak makanan di depan bangku penumpang

Hari sebelumnya memang kami sudah membeli tiket di counter resmi yang ada di dekat pelabuhan. Tiket Ferry dari Pulau Weh ke Banda Aceh dibedakan menjadi 3 jenis, ekonomi, Bisnis dan VIP atau Eksekutif. Perbedaan harga antar jenis tiket adalah sekitar 10 ribu rupiah, dan saya sempat bertanya mengenai perbedaan antara jenis tiket Bisnis dengan VIP kepada petugas di counter tiket sebelum akhirnya memesan jenis tiket VIP. Petugas mengatakan bahwa pemegang tiket VIP akan mendapatkan makanan sedangkan pemegang tiket bisnis tidak akan mendapatkan makanan. saya yang menganggap bahwa perjalanan yang akan kami tempuh menuju Banda Aceh dimulai sangat awal di pagi hari langsung memesan tiket VIP agar tidak perlu terburu-buru sarapan di resort.

Ferry ke Pulau Weh, Ferry ke Sabang, Ferry banda aceh sabang
suasana masuk ke dalam kapal

Beberapa menit kemudian ferry pun berjalan menuju Kota Banda Aceh. Perjalanan ini akan ditempuh dalam kurun waktu kurang lebih 2 jam. Televisi yang berada di depan ruangan menampilkan berbagai macam video klip mulai dari lagu-lagu lawas westlife, backstreet boys hingga Dewa 19. Saya yang masih ngantuk pun sempat tertidur selama beberapa menit sebelum akhirnya terjaga sampai ferry tiba di pelabuhan.

“Kok kotakannya gak dibagiin ya cuy?” Tanya Agga.

“Ambil sendiri kali ya?” Jawab saya.

“Tapi kok gak ada yang ngambil si?” Tanya Agga lagi.

“Gak pada laper kali” Jawab saya ngasal.

“Bentar lagi mungkin ada yang bagiin, nunggu aja” jawab Agga lagi.

Lagu-lagu pun silih berganti, petugas ferry juga sudah beberapa kali mondar-mandir di ruangan namun kotak makanan tidak juga dibagikan.

“Kotaknya cuma pajangan kali” Kata Rifqi

“Penumpang yang lain juga nyantai aja, ahahah.. mereka gak tau kali ya” Kata Saya

“Kalo kita ambil diteriakin maling gak?” Tanya Agga lagi.

Hening…

“Ambil aja” kata saya

“Jangan ah, ntar diteriakin maling” Kata Agga

“Ambil Qi” Kata saya lagi

“Lu aja Ka” Jawab Rifqi lagi.

Saling tunjuk itu berlangsung hingga kapal hampir merapat di Pelabuhan Banda Aceh sambil sesekali kami ikut bernyanyi bersama lagu yang diputar di televisi.

“Coba ntar gue liat pas mau turun kotaknya ada isinya gak” Kata Agga

“Kalo ada isinya ambil aja Ga” kata saya lagi.

“Kalo ternyata itu bukan buat kita dosa tau” jawab Rifqi.

Ketika kapal merapat dan penumpang mulai berbaris untuk turun kami tidak segera ikutan berbaris karena penasaran dengan isi kotak yang sedari kami masuk kapal duduk manis di depan bangku penumpang tersebut. Agga nyengir sambil berjalan ke arah kotak dan membuka penutup salah satu kotak yang ada di paling atas.

“Beneran ada isinya cuy, makanan itu. tapi makanan udah disitu berapa hari gak tau, gak ada yang ambil soalnya” Katanya ngakak.

“Ambil aja” Kata saya lagi

“Gak usah, makan di bawah ajalah hayok” Ajak Rifqi.

“Tapi kita udah sengaja gak makan di resort buat makan di ferry Qi” kata saya lagi.

“Udah ayok buruan turun” ajaknya mengakhiri perdebatan.

Akhirnya kami bertiga turun dari kapal tapi masih bertanya-tanya, kotak di atas meja itu untuk siapa? Duuuuhh… sampai sekarang kalau dipikir-pikir harusnya tempo hari kita ambil aja itu kotak. Kan udah bayar juga. Hih.

-Rie-

 

Related posts

Leave a Comment