Marriage and the rest of our life..

Lantunan lagu “I don’t need a man (Independent Lady) dari Miss-A lagi sering banget saya putar belakangan ini, selain melody-nya yang asik banget, lirik yang disajikan dalam lagu tersebut ngena banget. Lagu ini si intinya bercerita tentang “Independent woman” yang ga perlu “dukungan” dari kaum lelaki. Beranjak dari situ, saya jadi teringat salah satu topic yang cukup berat yang saya bahas dengan rekan saya ketika traveling, tentang  Marriage.

Cuaca ceraaaaaahhhhh sekali… berbeda ketika dua minggu yang lalu saya menemani rekan saya, Rahmanu ketika berkunjung ke negara ini. Saat itu, hujan menderu-deru sehingga kunjungan Rahmanu ke negeri mungil ini sedikit tersendat.

Kali ini ketiga kalinya saya menemui rekan saya dari Indonesia yang singgah ke Singapura. Setelah Atok, Rahmanu, dan sekarang Kahfi, rekan seperjuangan ketika saya masih berada di organisasi kampus berencana singgah di negeri ini setelah berkeliling Kuala Lumpur dan Malaka. Pagi itu di Bugis Junction, kami bertukar cerita secara heboh karena sudah lama tidak bersua.

Setelah puas sarapan, kami pun melakukan perjalanan. Perjalanan kami dimulai dari Bugis Junction ke Chinatown lalu ke Clark Quay, makan siang di sekitar Bras Basah sampai membeli Ipad titipan dari rekannya dan berujung ke Esplanade sampai Helix Bridge. Pembicaraan kami pun bermacam-macam dari mulai pekerjaan, organisasi kampus, traveling sampai satu tema yang akhirnya membuat kami berdiskusi semakin heboh. Tentang pernikahan.

“Kadang gw suka ngeri aja Fi kalo udah ngebayangin nikah, yaah… gw ngeliat orang-orang sekitar si” Kata saya di tengah perjalanan menuju Esplanade.

“Ngeri gimana?” tanya Kahfi.

“Yaaah.. tadinya pas pacaran unyu-unyuan, tapi pas nikah keluar aslinya. Ada temen gw yang barusan punya anak, eh terus suaminya jadi cuek karena katanya suaminya ga mau punya anak dulu. Loe bisa bayangin ga si? The rest of our life kita bakal dihabisin sama satu orang yang bahkan sebelum nikah kita ga tahu aslinya dia kaya gimana” Kata saya.

“Kalo ga cocok kan bisa cerai… hahahaha” Kata Kahfi ngasal.

“Yeeee… malah…. kalo belom ada anak, kalo udah ada anak gimana?” tanya saya lagi.

“Iya si, anak yang bakal jadi korban kalau kaya gitu” Kata Kahfi.

Saya jadi semakin heboh, tadinya memang saya rada-rada males ngomongin tentang hal beginian. Jujur aja, saat ini belum ada secuil pun pikiran tentang sebuah ikatan bernama pernikahan di dalam kepala saya. Tetapi ketika rekan saya kali ini mengungkapkan bahwa dirinya punya rencana untuk menikah di tahun depan padahal calon aja belom punya, saya jadi penasaran apa si yang bikin dia pengen nikah cepet-cepet.

“Yaaah.. kan enak aja rie kalo udah nikah, ada yang ngurusin, ada yang nemenin. Tapi bahasa elo itu loh, The rest of our life, berat banget kayanya. Hahaha” Kata Kahfi.

“Lah benar kan? Bayangkan misalnya loe nikah umur 26 terus loe hidup sampai 60 atau 70 tahun, berarti loe bakal ngehabisin waktu sama istri loe nanti sekitar 40 tahun atau 50 tahun. Setiap hari sampe loe mati” kata saya.

“Iya juga ya” Kata kahfi manggut-manggut.

“dan iya aja, kalo di tengah jalan bosen. Gimana?” celetuk saya, kahfi pun ngakak.

“yaaa… jangan sampai bosen lah..” kata Kahfi.

“Nah, apa yang bisa bikin ga bosen coba?”Tanya saya lagi.

“Banyak. Ngapain keq.. haha..” kata Kahfi

“Gw ajau dah bisa ngebayangin nanti, anak gw pasti lucu kaya bapaknya. Hahahaha” kata Kahfi kepedean sambil ngakak.

“Gw udah ngebayangin nanti, anak elo mesti stres punya bokap pecicilan kaya elo, hahahaha” kata saya ga kalah ngakak.

Somehow, gw mikir juga fi.apa orang yang udah married sebelum married kepikiran ga si tentang calon pasangannya itu? Kaya misalnya, calon pasangan gw nanti harus smart, cerdas punya kapabilitas yang jelas karena dia nantinya bakal jadi orang tua dari anak-anaknya. Jauh banget ya gue mikirnya? Hahahaha” cerocos saya.

“kalo gw si mikir, smart itu general banget si. Dalam hal apa dulu. Makanya gw pengen istri yang smart, biar ga bosen” kata Kahfi.

“hahaha… yakali smart bisa bikin ga bosen. Kalo gw si tetep mikirnya, fisik gampang dirubah, tapi karakter itu mendarah daging. Perlu lebih dari sekedar fisik untuk nyari pasangan hidup. *tsah. Bahasa gw berat banget.. hahahaha” Kata saya berfilosifi.

“Ngerubah fisik juga kalo ada duitnya kale” kata Kahfi.

“hahaha.. iya yang penting bisa diubah laaah, daripada seumur hidup loe berdampingan dengan seseorang yang fisiknya oke tapi punya karakter engga banget” saya ga mau kalah.

Perbincangan mengenai tema “The Rest of our life” berlangsung sampai Kahfi hampir lepas landas kembali ke Jakarta, bahkan di Changi Airport pun kami sempat membahas mengenai tema tersebut lagi.

“Jadi loe ke Jogja lagi,Rie? Kapan?” Tanya Kahfi sambil mengutak-ngatik tablet di hadapannya.

“jadilah, kangen gw sama anak-anak gue.. hahaha” jawab saya.

“Iya, puas-puasin deh loe maen sama mereka, sebelum nikah, nanti hubungan loe ke mereka ga akan sama kaya sekarang.” Kata Kahfi nyantai.

Kalimat singkat yang terdengar ringan tersebut terasa benar juga.

Well, yes, setiap orang pasti punya opini masing-masing, ada yang pengen nikah muda. Ada yang pengen ngeduluin karier dan senang-senang dibandingkan dengan menikah. Hidup itu pilihan, dan yang pasti setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.

Marriage adalah satu kata mewakili dua individu, berlangsung satu kali dan berusia seumur hidup jika diikrarkan. Dan menurut saya, saat ini, hal ini lebih kepada suatu ikatan dibandingkan hubungan. Entah karena ini faktor karena saya kebanyakan nonton serialnya Carrie Bradshaw, atau karena sedari kecil saya sudah dicekoki dengan “kemandirian”, tapi dalam peta hidup saya sekarang, belum ada kata itu yang saya cantumkan untuk saya capai di beberapa tahun ke depan. Belakangan ibu saya mengatakan bahwa pola pikir saya terlalu “modern” yang saya tanggapi dengan cengiran.

Belakangan ketika doa rekan-rekan saya ketika saya ulang tahun dua bulan lalu isinya kebanyakan “ditunggu undangan nikahnya yaaa” saya jadi semakin mikir, apa orang yang telah mantap untuk menikah sudah memprediksikan apa yang akan mereka tanggung dan hadapi nantinya, bukan hanya sebatas alasan cinta, fisik, bahkan sex semata, karena menikah itu menyatukan dua dunia yang berbeda bersama dengan seluruh hubungan-hubungan yang ada di dalam dunia tersebut, dan mungkin saja dengan menikah, hubungan kita dengan orang-orang yang ada di dunia yang kita jalani selagi masih single akan sedikit banyak berubah.

Seperti yang saya sampaikan pada tulisan di atas, Marriage harusnya menjadi hubungan/ ikatan seumur hidup, dan orang yang tepatlah yang memang harus mengisi posisinya, bukan karena keterpaksaan, tekanan dari lingkungan apalagi kecelakaan. Sekali lagi saya tekankan, setiap orang punya pendapat masing-masing terkait hal ini.

Sebagian wanita di negara yang tak jauh dari Negara ini masih banyak yang menikah karena keterpaksaan, sebagian lainnya lagi di bagian negara yang beda memilih untuk mengedepankan kemapanan material dibandingkan dengan menikah, bahkan ada juga wanita yang memilih untuk jadi single dan tidak mempercayai adanya pernikahan. It’s depend on your choice.

“Being single used to mean that nobody wanted you. Now it means you’re pretty sexy and you’re taking your time deciding how you want your life to be and who you want to spend it with.” –C.B

Saya sependapat banget sama Carrie Bradshaw di salah satu episode S.I.C yang mengatakan ,”Maybe some women aren’t meant to be tamed. Maybe they need to run free, until they find someone just as wild to run with.”

And yes, I’m waiting for the one as wild to run with, not the one who prefer to tide me up with a relationship called marriage. It’s one for the rest of your life, think carefully before you decide ^^

Tetiba saya jadi pengen nyanyi lagunya Miss A,

Boy,  Don’t say

“I’ll take care of you, I’ll cherish you” no no

Boy, don’t play

If you’re not gonna come with a serious mind

I can live well without a man

So, if you are not confident, don’t come to me

Because I don’t give my self easily…

 

-Rie-

 

Related posts

2 Thoughts to “Marriage and the rest of our life..”

Leave a Comment