Kota Tua, Sebuah Kota yang terlupakan

September 2010

Jakarta sedang panas-panasnya hari ini. Inginnya sich tetap di rumah saja, secara sekarang masih lebaran hari ke dua dan juga masih pengen males-malesan di rumah setelah seharian di luar rumah kemarin. Tapi keinginan tersebut langsung buyar ketika mendapat pesan singkat dari salah satu sepupu saya.

”Ka, loe jadi ikut ke Kota Tua ga? Kita kayanya berangkat jam 1 deh” pesan tersebut begitu singkat terlihat di layar handphone ku
”Engga ah, panas. Males juga” Balasku singkat. Setelah membalas SMS tersebut, saya melanjutkan acara nonton kartun di hari libur.
”Tumben ada Power Puff Girl hari ini,” batinku dalam hati. Tak lama kemudian sebuah pesan singkat dari sepupuku (lagi) kembali datang ke hape ku.
”Kata mama gw sama Bude Tuti, loe kan jarang ketemu sama kita-kita, sekali-sekali lah jalan-jalan sama sepupunya..” singkat, jelas dan padat.

Haduuuhh… kalau sudah urusan beginian mah saya angkat tangan deh. Paling males kalo urusannya dihubungkan dengan ”kuliah di jogja, jarang pulang, jarang ketemu keluarga, dan seringnya jalan-jalan sendirian ato sama orang lain”

”Okelah, ntar jemput gw jam 12. gw mandi dulu” balasku singkat setengah ikhlas. Akhirnya saya pun segera beranjak dari depan tivi menuju kamar untuk mandi dan bersiap, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat.

Akhirnya jam 12 kurang saya pun telah siap di ruang depan untuk menunggu jemputan dari salah seorang sepupu saya. Beberapa menit kemudian, zessy yang diutus untuk menjemput saya pun datang. Saya pun dengan enggan beranjak keluar rumah untuk bergegas ke rumah nenek yang tidak jauh dari rumah saya, di sana sepupu saya yang lain telah bersiap untuk berangkat ke Kota Tua Jakarta.

”Aiihhh maaaakkk… panas nian kota Jakarta hari ini, apalagi kami akan berangkat ke tempat tujuan menggunakan angkot (angkutan kota.red)” Pikiranku sudah terbang ke hal-hal yang akan kami alami nanti.

Sampai sudah saya dan Zessy di rumah nenek saya. Sepupu saya yang lain sedang bersolek dan bersiap-siap untuk berangkat.

“Emang mau ngapain sich ntar disana?” Tanya ku untuk yang kesekian kalinya.
”Mau foto-foto” Jawab Suzan sambil merapikan rambutnya.
”Trus ntar mau ampe jam berapa?” tanya ku lagi
”Ya sampai kita puas. Hehehe” Jawabnya lagi sambil nyengir. Sepupuku yang lain juga menyunggingkan cengirannya mendengar jawaban dari Suzan tersebut.
”haduuuhh.. dasar ABG” Jawabku sambil keluar kamar, dan menuju ke ruang depan sembari mengeluarkan pemutar MP3 tercinta. Sambil menunggu 5 orang sepupuku bersiap, saya pun memutar lagu-lagu SS501 untuk kembali menaikkan mood saya yang sedang terombang-ambing memikirkan masa depan (halah..)

Akhirnya setelah 15 menit berlalu, kami pun menaiki angkot yang bisa dijumpai tepat di depan rumah nenek saya (karena rumah nenek saya terletak pas di pinggir jalan besar). Untuk menuju Kota Tua dari tempat nenek, kami menaiki 2 angkutan yang berbeda. Satu angkutan yang menuju terminal, dan satu lagi angkutan yang menuju Kota.

Kota Tua, itulah sebutan dari tujuan yang akan kami datangi. Sebenarnya sejarah mengenai keberadaannya bisa banyak kita temukan di buku-buku sejarah hingga website –website kebudayaan khususnya kebudayaan mengenai kota Jakarta. Jakarta sebenarnya memiliki berbagai potensi wisata, terutama untuk para wisatawan yang sangat tertarik dengan wisata kota, tetapi karena pembenahan pariwisata masih kurang diperhatikan, maka potensi wisata tersebut masih samar-samar terlihat oleh mata. Salah satu contohnya adalah Kota Tua ini.

Lokasi di sekitar Kota Tua dipadati oleh Museum, terdapat pula Kalibesar yang pada zaman Belanda pernah menjadi salah satu pusat perdagangan. Selain itu terdapat pula Pelabuhan Sunda Kelapa yang dulu sering sekali saya dengar ketika pelajaran sejarah di bangku SD.

Di sekitar Lapangan Fatahillah (Fatahillah Square), ada Museum Seni Rupa dan Keramik dan Museum Wayang. Bangunan yang digunakan Cafe Batavia yang berlokasi di seberang Museum Sejarah juga berusia lebih dari seratus tahun. Cafe Batavia yang buka selama 24 jam ini pernah mendapat predikat ”The World’s Best Bars” dari Majalah Newsweek tahun 1994 dan 1996.(Source: http://jakarta45.wordpress.com/2009/09/14/wisata-sejarah-kota-tua-jakarta/)

Seturunnya saya dari angkutan di jalan raya yang tepat berada di samping lokasi yang masuk ke arena Kota Tua, pemandangan yang disajikan adalah gedung-gedung tinggi yang terlihat menyimpan banyak cerita mengenai masa lalu kota Jakarta. Sepintas terlihat sangat eksotis, tetapi perasaan tersebut langsung tertutupi rasa miris yang langsung menyelimuti rasa kagum terhadap bangunan-bangunan bersejarah ini.

Para Pedagang yang tidak beraturan menempati hampir setiap sisi jalan yang ada di lokasi tersebut, belum lagi sampah yang lumayan mengganggu dan juga banyak sekali coretan di beberapa sisi gedung bernilai sejarah tinggi tersebut. Rasa ingin menikmati lokasi dengan foto-foto dan memandang sekeliling pun seketika pupus. Tetapi setidaknya hari ini saya telah belajar sekelumit cerita tentang sudut kota Jakarta dan penanganannya.

”Rame banget ya Ka, padahal pas gw kemaren kesini sama Zessy sepi banget tau” Kata Suzan.
”Wajar lah, ini tuh masih hari libur. Lebaran kedua, pastinya orang-orang pada mau jalan-jalan lah” Kataku
”Trus sekarang kita mau kemana?” Tanya Zessy
”Ke sana aja” Tunjuk Suzan.

Kami berenam pun beranjak ke salah satu sudut di lokasi tersebut. Dua orang sepupu saya melihat-lihat gelang dan kalung yang dijual, sementara saya dan sisanya membeli es potong yang berjualan tak jauh dari sana.

”Ka, nyewa sepeda yuk” Ajak Zessy
”Ogah, panas” Tolakku
”Ayo nyewa aja, ntar kan bisa foto-foto pakai sepeda” Ajak Ambar.

Selain banyaknya museum di sekitar Kota Tua, kita juga bisa menyewa sebuah sepeda onthel untuk mengelilingi lokasi sekitar Kota Tua tersebut. Harga sewa per jam nya adalah 10 ribu rupiah, namun karena memang sekarang sedang liburan tingkat tinggi, sang penyewa sepeda tersebut menaikkan harga sewa menjadi 20 ribu per jam. 2 kali lipatnya, cuy…

Urung menyewa sepeda, kami pun mulai foto-foto di sekitar lokasi itu. Maklum karena masih tanggal merah, museum yang ingin kami masuki pun masih tutup (sayang sekali rasanya, :sigh). Setelah puas dengan berbagai gaya, para sepupu pun memutuskan untuk makan siang. Saya yang memang lagi tidak pengen makan pun memisahkan diri dari rombongan bersama Zessy untuk mencari tempat lain untuk dijadikan latar foto-foto. Hehe..

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, banyak sekali pedagang yang berjualan di sekitar museum di Lokasi Kota Tua tersebut, termasuk pedagang makanan. Aneka makanan bisa kita temukan disini. Mulai dari otak-otak, es buah, bakso sampai makanan khas Jakarta yaitu kerak telor.

Saya dan Zessy pun beranjak menuju Kalibesar karena di daerah tersebut cukup sepi. Pemandangan yang cukup asri dan menyenangkan terbentang di sekitar Kalibesar itu. Sampai kami selesai mengelilingi Kota Tua, spot inilah yang menurutku paling menyenangkan.

Dua jam lebih kami mengelilingi lokasi wisata tersebut sambil berfoto-foto. Pegal tapi kurang puas karena kami tidak dapat memasuki museumnya. Mungkin lain kali kami akan mengunjungi tempat ini lagi.

Beberapa harapan muncul usai mengunjungi salah satu Lokasi Wisata di Jakarta tersebut. Semoga pembenahan dapat dilakukan sehingga kilau potensi wisata bersejarah tersebut dapat terlihat. Pembenahan lokasi pedagang, pembenahan tempat pembuangan sampah, dan juga pemugaran beberapa gedung yang terlihat seperti gudang dan dibiarkan tercoret-coret oleh tangan-tangan iseng. Semoga saja ^_^

There’s always a lesson in each Journey
Mari Jalan-jalan ^_^b

Related posts

20 Thoughts to “Kota Tua, Sebuah Kota yang terlupakan”

  1. tyo…sya sudah dua kali ke sana mbak…memang kurang dikelola scr maksimal….padahal misal dikelola terus dimasukin ke program visit Indonesia pasti laris…coz bulbul( bule2) kan pada senang hal2 berbau kuno antik..hahaha…n saya setuju dengan pernyataan saudara2 di jakarta klo ngomong " kamu kan jarang ke jakarta, kamu kan jarang kumpul," senjata sakti mandraguna mah itu..hahahaha..di semarang ad kok mbak kota tua juga..mau kesana juga…

  2. @Tyo: iyah, kalo kalimat "kamu kan jarang ke jakarta, kamu kan jarang kumpul," pasti jadi senjata sakti keluargaku (-_-)''bener banget, kemaren pas aku kesana juga banyak bule, coba kalo dikembangin lagi pariwisatanya, pasti jadinya bakal keren banget disana..eniwei, kapan-kapan kita ke Kota Tua yang di semarang ya 😀

  3. bener-bener kota tua ya? itu emang sepi tempatnya ato karena lebaran? eh iya, minal aidin wal faizin 🙂

  4. like like :)lebaran besok ke taman mini yahh jangan lupa bawa kamera eos nya hehehehe

  5. @Kang Iyos: bukan sepi Kang, tapi gedung-gedungnya udah tua banget gitu..sama-sama ya, kemaren saya ngirim sms, tapi ga nyampe, kayanya nomornya salah deh Kang :D@Anonim(Zessy): haha.. okeoke.. ntar kita tahun depan kesana 😀

  6. Widiw- asik bangeeeeet 😀 aku dari dulu emang pengen ke kota tua jakarta 😀 keliatannya emang sayang sih kalo liat kota tua di Indonesia… mungkin klo dipertahankan kasliannya, gak perlu jauh2 ke eropa buat liat gedung2 keren itu 😀 muga2 orang kita makin sadar deh klo bangunan antik-klasik itu bisa jadi sesuatu yang kita banggakan besok :Daku suka banget kata2mu di akhir tulisan There’s always a lesson in each Journey 😀 bener banget :Dbtw besok klo kmu di jkt n lagi jalan2 aku diajak yo 😀

  7. @Atok: wokeeeyyy tookk… besok kan kamu udah mulai tinggal di deket Jakarta, hehe.. ntar kita keliling spot-spot asik di jakarta bareng bareng :Ddan semoga pariwisata di Indonesia semakin maju dan terawat, amiiinnnn 🙂 thanks feedbacknya ^_^

  8. yup, pariwisata di Indonesia emang harusnya dibenahi. bayangkan berapa banyak potensi pariwisata di wilayah negeri ini yang bisa menjadi salah satu sumber pemasukan negara. anyway, it's a good posting-ANW-

  9. aje gile.. jalan2 mulu euy:ngakak

  10. @ANW: setuju sama pendapatmu, hehe… @Rahmanu: jangan ngiri aaahh… ayo kita jalan-jalan lagi(emang pernah jalan bareng ya) hahaha 😀

  11. hahaha inget kota tua, inget masa2x SMA kan dlu poto2x bts di sana hahahhaa

  12. weitss,kata temen ku juga bangunan nya keren" disitu mbak, eh, betewe sodara mu mirip" sama kamu mbak, wakakak

  13. @rahmanu: wokeh deh..@Adit: emang bangunannya keren-keren dit. ya iyalah, mirip… maksutmu ki opo to?? >.<

  14. iya..mbak, kotor&bau, kasian tuh yang air mancur yang tengah lapangan, kolamnya malah jadi tempat sampah…padahal kan di sekitar situ dulu tempat hukuman mati…udang ke museum Bi & Mandiri blom mbak…lumayan baguslah 2-2nya

  15. @muqitapura: iyah, itu parah banget.. kemaren bwlom sempet ke museumnya, soalnya tutup T.Tnext time pasti bakal nyempetin kesana deh…

  16. wuahhh ternyata keren juga ya kota tua^^KAMERAnya apa nih yg dipake ka?keren foto2xnya

  17. @Anonim: emang keren, ke sana lah sekali-sekali :Dkemaren pake kamera digital biasa koq.. heuheu.. masih menanti SLR di tangan ni :p

Leave a Comment