“Hitchhike”, Lebih dari sekedar tumpangan

Di saat ketulusan menjadi sebuah hal yang sangat langka, saya pernah menemukannya dalam perjalanan dari Lombok ke Surabaya…

Kapal Ferry yang akan membawa saya menyebrangi selat Lombok akan segera berangkat, saya sudah memposisikan diri di salah satu bangku yang cukup nyaman untuk perjalanan selama 4 jam ini. Beberapa tawaran oleh-oleh dari penjual yang ikut naik ke dalam kapal sudah lalu lalang menghampiri saya, tapi saya malah asik mengumpulkan gambar dari kamera saya, ketika pemandangan di luar jendela sudah berubah menjadi hamparan lautan luas tak bertepi barulah saya mengamati sekitar. Setengah perjalanan berikutnya saya sudah berkeliling memutari kapal ferry yang cukup besar ini. Sambil mengamati dari lantai dua kapal ferry tersebut, kepala saya melongok melihat truk-truk yang berjejer di lantai dasar. Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepala saya. Bagaimana kalau saya numpang truk saja, lumayan dari Pelabuhan ke Terminal Ubung, pengalaman juga ya kan, batin saya.

Saya pun lalu menghampiri salah satu supir truk yang sedang membenarkan barang di bangku penumpang.

“Pak, truk-nya kosong kah?” sapa saya.

“Iya Mbak, ini mau ngambil batu apung. Jadi sekarang masih kosong” Jelas si Bapak memandang saya aneh karena tiba-tiba menghampirinya.

“ngomong-ngomong nih, Pak. Bapak lewat Terminal Ubung ga? Atau ke Denpasar gitu?” tanya saya

“Iya, saya ke arah sana” Kata si bapak lagi.

“Boleh saya numpang sampai Terminal Ubung, Pak?” Tanya saya lagi berharap si Bapak memberikan ijin untuk saya numpang di atas kendaraan besar miliknya.

“Oh, boleh. Mbak. Ntar ikut aja, saya sama cuma berdua sama anak saya ko. Di bangku belakang kosong” Jelas si Bapak.

“Oke, hehehe” saya nyengir karena kesenangan.

“Emangnya bapak mau ngambil muatan di mana si Pak?” Tanya saya lagi penasaran.

“Oh… saya mau ke Tanjung Perak, Mbak. Di Surabaya.” Jelasnya lagi.

*Cling* saya langsung dapat ide…

“Oh ke Surabaya to? Atau sekalian saya ikut ke Surabaya boleh? Kebetulan saya memang mau kesana. Hehehe” kata saya berharap. Semoga saat itu suara saya ga kedengeran ngelunjak ya. Hehehe

Si Bapak kembali memandang saya aneh, lalu berkata, “Boleh, gapapa. Asal tahan aja, soalnya perjalanannya lumayan jauh, Mbak”

“Oh gapapa, Pak. Gapapa, santai aja.” Kata saya sambil tersenyum.

Begitulah kira-kira percakapan saya dengan si Bapak, dengan modal nekat dan berharap selama perjalanan tidak akan terjadi sesuatu yang mengerikan pada saya, akhirnya dua jam kemudian saya sudah berada di dalam truk bersama Bapak supir dan anaknya yang berusia sekitar 12 tahun.

“Mbak, nanti agak menunduk sedikit ya pas keluar pelabuhan, kami sebenernya ga boleh bawa penumpang di dalam truk” Jelas si Bapak.

“Oke” kata saya, saya pun mengikuti instruksi si bapak supir truk dan beberapa saat kemudian kami sudah melaju di jalan menuju ujung barat Pulau Bali.

Jujur aja, selama kurang lebih beberapa jam pertama saya lebih banyak diam, secara ga tau mau ngomong apa sama si Bapak, dan agak-agak ngeri juga karena tampang si Bapak lumayan serem. Hehehe :p Sampai akhirnya kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk. Truk yang saya tumpangi tidak masuk ke dalam ferry yang biasa mengangkut penumpang, melainkan kapal khusus untuk penyeberangan kendaraan. Saya melongok keluar truk tertarik dengan keadaan sekitar.

“Biasanya kalau truk begini, naiknya kapal yang seperti ini, bukan kapal penumpang.”Jelas si bapak.

“oh gitu ya, Pak. Saya baru tahu.” Kata saya sambil melongok ke luar kembali.

“Mbaknya asalnya dari mana?” tanya si Bapak

Saya baru sadar sedari tadi saya belum memperkenalkan diri. Duh, rasanya jadi malu, ngerasa ngelunjak banget.

“Saya dari Jakarta, Pak. Nama saya rie, Kalau bapak, asli dari Lombok kah?” tanya saya balik.

“Iya, saya asli lombok. Rumah saya di tengah kota, di dekat pasar, di daerah Cakra. Katanya menyebutkan salah satu nama daerah di Kota Mataram.”

“Oh iya, kemaren saya sempat menginap di sana sebelum ke Gili Trawangan” Kata saya

“Iya, di daerah sana memang banyak hotel murah. Besok kalau main ke Lombok lagi, mampir di mataram, di dekat pasar, tanya saja Pak Adi yang supir truk, semua kenal saya ko” Katanya lagi.

“Oh iya, sebelah mananya pasar, Pak?” tanya saya

“dekat rumah sakit, nanti ada gang. Saya punya mobil kecil, nanti saya tunjukkan Lombok yang ga ada di buku wisata deh” katanya lagi.

“InsyaAllah ya Pak, ga tau lagi kapan ke lombok euy” kata saya

Hening sejenak

“Nanti suatu saat jika kita ketemu di jalan, jangan buang muka ya Mbak, saya memang supir truk, tapi kami orang baik ko. Ya semoga saja silaturahmi ini tetap berjalan nantinya” katanya dengan suara cukup pelan.

Saya cuma tersenyum, ga tau lagi mau ngomong apa saat si bapak mengatakan hal tersebut, jadi malu sendiri juga karena sedari tadi saya berpikir yang engga-engga terhadap si Bapak.

Pasca menyeberang, kami melanjutkan perjalanan sampai lewat tengah hari, truk yang saya tumpangi pun berhenti di warung pemberhentian yang ada di pinggir jalan.

“Kita makan siang dulu ya Mbak Rie” kata si Bapak, saya pun mengangguk mengikuti dia dan putranya yang langsung mengantri di kasir. Beberapa menit kemudian, setelah saya selesai makan, si bapak langsung mengambil piring saya dan membayarkan makanan yang sudah saya makan.

“loh pak, ga usah, saya aja yang bayar.” Kata Saya.

“Udah gapapa” kata dia, saya pun pasrah lha wong sudah dibayarin, tapi ngerasa bersalah juga, udah numpang, pake makan gratisan pula. Berikutnya juga ketika pemberhentian berikutnya saat waktu makan malam, beliau melakukan hal yang sama. Saya Cuma garuk-garuk kepala karena si Bapak ngotot mau ngebayarin saya.

tidak terasa sudah lewat dua belas jam saya bersama si bapak dan anaknya, lalu saya bertanya,

“Kalau dari Lombok, truknya kosong terus ya Pak?” tanya saya.

“Iya, biasanya kami ngambil muatan di Tanjung Perak, nanti diisi lalu kami balik lagi ke Lombok. Kadang kalau dari lombok, kami bisa juga si bawa bahan makanan ternak, tapi jarang-jarang. Biasanya tiap hari senin atau hari rabu kami berangkat ke Surabaya, nanti sehari setelahnya baru pulang lagi ke Lombok, tapi tergantung orderan dari pemesan muatannya si” Jelas si Bapak.

“ini si ade, selalu ikut atau gimana, Pak?” tanya saya menunjuk anaknya yang sudah tertidur lelap

“Seringnya si begitu, habis susah, mbak. Disuruh sekolah tapi ga mau, katanya mending ikut saya saja. Ga kaya kakaknya yang rajin sekolah.” Katanya lagi.

“Oh… begitu…” Pikiran saya melayang ke kegelapan yang ada di luar truk kami.

“Jauh juga ya pak kalau bolak-balik terus setiap minggunya” Kata saya membayangkan rutinitas para supir truk ini.

“Iya, tapi mau gimana lagi, ya harus dijalani” Katanya.

Tiba-tiba handphone si bapak berbunyi, dia membicarakan sesuatu tentang muatan truknya dengan orang yang menelponnya.

“Mbak Rie, kita istirahat sebentar ya, saya sedikit ngantuk, supaya jalannya tetep lancar dan nantinya selamat” Katanya setelah menerima telepon.

Sebenernya saya sedikit was-was, secara saya wanita, sendirian pula dan ini di tengah hutan. Mana perjalanan ini tanpa sepengetahuan dari kedua orang tua saya lagi, kalau kenapa-kenapa, habislah saya. Ah tapi sudahlah, saya tetep positif thinking. Toh saya pernah belajar karate dan menyandang status pemegang sabuk berwarna gelap, masa takut si. Saya terus memberikan sugesti diri saya sendiri.

Setelah truk berhenti, si Bapak dan putranya mulai terlelap. Saya sebenernya sudah ngantuk, tapi mau tidur tetep aja ngeper, masih aja ada negatif thinking di kepala saya, tapi akhirnya karena ngantuk tak tertahankan, saya pun tepar di bangku belakang truk. Bangun-bangun hari sudah terang dan si Bapak sudah tidak ada di bangkunya. Nah lo…

Saya bangun dan terduduk melihat sekitar, si bapak ternyata ada di luar sedang merokok dan ngobrol bersama dengan supir truk lain yang kebetulan beristirahat di tempat kami. Beberapa menit kemudian si Bapak menghampiri saya.

“Mbak Rie, kebetulan tadi pagi saya di telpon oleh orang yang order muatan. Kayanya saya ga bisa lanjut ke Surabaya sekarang karena harus menunggu muatan lain yang kemungkinan baru sampai sini sore nanti” Kata si Bapak.

“Waduh, terus gimana, Pak?” tanya saya.

“Surabaya tinggal 2 jam lagi dari sini kalau naik mobil. Tadi saya sudah bilang sama dua teman saya itu, kalau mbak mau menumpang sampai Tanjung Perak” Katanya sambil menunjuk dua supir truk yang tadi mengobrol dengannya.

Saya melirik sekilas dengan was was lalu kembali memandang si Bapak.

“Gapapa ko, tadi saya sudah bilang kalau Mbak Rie ini adik saya. Jadi nanti kalau mereka tanya, bilang saja Mbak adiknya Pak Adi, mereka akan nganter sampai Tanjung perak.” Jelas si bapak lagi.

Saya yang baru bangun dan masih setengah nge-hang tidak bisa berkata apa-apa saat itu.

“Sebentar lagi mereka berangkat, Mbak. Ayo” Katanya sambil mengangkat backpack saya dan membukakan pintu.

Saya mengikuti si bapak sampai ke tempat kedua rekannya tersebut, si bapak kembali berbicara dengan bahasa daerah kepada temannya sambil meletakkan backpack saya di bangku belakang truk rekannya itu.

“Inget ya Mbak, bilang aja Mbak itu adik saya. Sampai ketemu lagi ya Mbak, kalau ke Lombok lagi, main ya ke tempat kami.” Kata si bapak, saya hanya mengangguk.

Saya pun naik ke bangku belakang truk yang baru diikuti dua orang pria yang mengemudikan truk tersebut. Ketika mesin truk dinyalakan, saya melongok keluar jendela, si Bapak masih terdiam di samping truk yang saat ini mengangkut saya sambil tersenyum lalu melambai kepada saya. Saya balas tersenyum dan melambai, ketika truk sudah mulai berjalan, saya melihat ada sedikit air yang mengambang di matanya.

oh man…” batin saya, tiba-tiba saya merasa sangat menyesal telah berpikir yang tidak-tidak kepada si Bapak selama perjalanan tersebut.

Dua jam kemudian, saya sudah sampai di Tanjung Perak, menggendong ransel saya di sepanjang jalan menunggu rekan saya yang berjanji akan menjemput saya. Tak lama, Ian, teman saya satu SMA datang dengan nissannya.

“Eh Rie, loe naik apa si? Kemaren bilangnya datangnya tadi pagi, terus baru nyampe sekarang, di Tanjung Perak pula, bukannya di Stasiun. Gw jadi heran” Cerocos Ian ketika melihat saya duduk di bangku belakang mobilnya, nyengir, kucel dan gosong.

“Gw nebeng truk, yan. Gilaaaaa….. nanti deh gw ceritain, aseli gw ngantuk. Hahahaha” Kata saya heboh.

Oh My God, udah gila ni anak…” kata Ian shock. Saya cuma nyengir memandang ke luar jendela, melihat pemandangan Surabaya untuk pertama kalinya.

Hampir dua puluh empat jam saya mengalami pengalaman hitchhike saya yang pertama, tadinya saya mau belajar caranya untuk bekal siapa tau esok ketika saya ke Eropa, saya sudah mahir melakukannya, tapi ternyata dalam perjalanan lebih dari sehari semalam tersebut, saya belajar tentang ketulusan, and I really learn “Don’t Judge the book by it’s cover” .

Beberapa tahun kemudian, walaupun sudah beberapa kali “melewati” mataram sebagai cara transit ke daerah yang lebih timur, belum sekalipun saya menyambangi rumah Pak Adi, tapi saya tahu satu hal yang pasti, saya ga akan pernah buang  muka misalkan bertemu dia di jalan suatu hari nanti, it’s a promise.

-Rie-

 

Related posts

2 Thoughts to ““Hitchhike”, Lebih dari sekedar tumpangan”

  1. saya ikutan terharu 😀
    kadang pelajaran kecil kita dapat dari kejadian ga kita sangka ya

    1. Rie

      iya mbak, bener banget 🙂

Leave a Comment