Drama di Busan

Love Lock Busan Tower, Gembok cinta di busan, traveling ke Busan, Busan Korea Selatan

January 2017

Dingin. Pegel. Capek. Bete.

Begitulah perasaan saya ketika keluar dari Bandara Busan. Backpack saya yang beratnya 10KG terasa dua kali lipat beratnya karena sudah lebih dari seminggu digendong kesana kesini. Simcard yang saya beli alih-alih dapat digunakan malah stuck di handphone saya yang membuat si handphone tidak dapat nyala padahal peta menuju hostel ada di dalam memori hp. Akhirnya saya bermodalkan nekat untuk maju terus, untungnya waktu jaman kuliah saya sempet belajar Bahasa Korea beberapa SKS jadi lumayanlah. Lumayan lieur maksudnya. Hahaha.

Light rail train busan, transportasi di busan, transportasi di korea selatan, jalan jalan di busan, kereta di busan
tiket kereta dari Bandara Busan ke pusat kota

Ini adalah hari pertama saya sampai di Korea Selatan. Tentunya saya sangat semangat pagi ini sebelum keribetan menuju Bandara Narita terjadi kepada saya. Akhirnya begitu sampai di Busan semangat saya tinggal setengah apalagi cuaca Busan ternyata lebih dingin dibandingkan Tokyo. Hiks nasib orang tropis.

Setelah membeli tiket menuju pusat kota saya membuka-buka peta yang saya ambil di bandara sambil meraba-raba jalur kereta yang harus saya tempuh untuk menuju hostel. Jalur kereta di Busan hampir-hampir mirip dengan jalur kereta di kota-kota besar lainnya. Jalur ungu yang saya naiki berhenti di Stasiun Sasang, untuk menuju ke hostel yang saya akan tempati malam ini saya harus berganti line dua kali dan turun di Stasiun Beomnagol.

Keluar di Stasiun Beomnagol saya membuka peta saya kembali, menurut peta saya harus keluar di pintu keluar 8 jalan terus lalu belok kanan nampak di peta bahwa hostel saya berdiri manis di ujung belokan tersebut. Baiklah sambil memantapkan pinggang saya yang sudah setengah keram, berjalan lurus terus sampai ujung tapi ternyata belokan ke kanan tidak nampak sama sekali, saya tetap positive thinking dan terus berjalan lurus hingga bertemu dengan perempatan jalan besar lalu berjalan ke kanan. Saya sudah yakin donk kalau hostel saya akan menyambut saya di ujung belokan, namun ternyata di ujung belokan buntu dan tidak terdapat bangunan hostel yang saya booking sama sekali. Duh!

Celingak-celinguk. Gelap. Hari memang sudah berganti malam dan di ujung jalan ini hanya ada mobil yang melintas, hampir tidak ada pejalan kaki yang berjalan di jalan ini. Beberapa saat kemudian terdapat sesosok wanita yang melintas, saya langsung menghampirinya.

“Permisi, ini di daerah mana ya?” Tanya saya menggunakan Bahasa korea terbata-bata

“No..no..” kata si wanita tersebut tanpa melihat wajah saya. Beuh. Saya disangka mau malak kali ya. tambah bête. Tak lama kemudian lewat lagi seorang wanita. saya pun menghampiri wanita tersebut lagi.

“Sorry, saya tersesat. Boleh tunjukkan lokasi ini?” Tanya saya kali ini menggunakan Bahasa Inggris.

“I Don’t know” jawab si wanita itu tanpa melihat peta yang saya sodorkan.

Ih ilfeel. Sebel. Ternyata drama Korea tidak seindah yang ditampilkan. Hahaha… apasih.

Dengan hati kesel saya berjalan ke coffee shop terdekat. Meletakkan tas saya yang rasanya sudah seperti beban hidup ini di salah satu meja lalu menuju kasir dan memesan caramel macchiato hangat.

coffeeshop di busan, jalan jalan ke busan, tips ke busan
Koleksi games di dalam coffeeshop, busan

Sorry, apakah kamu tau guesthouse A? “ Tanya saya kepada barista di balik kasir. “handphone saya mati dan petanya ada di dalamnya jadi saya sedikit tersesat” tambah saya lagi.

“ooohhh… guesthouse A. iya saya tau. Dari perempatan langsung belok kanan lalu belok kanan lagi di belokan pertama. Nanti kamu akan melihat papan namanya” jelasnya antusias.

Deuh si Mbak, tau gitu daritadi gue kesini. Kata saya dalam hati.

Si Barista keluar dari counter-nya menuju komputer di belakang saya lalu mengetikkan sesuatu di layar dan mengoceh lagi tentang arah menuju guesthouse sambil menunjuk google maps yang telah muncul di layar komputer tersebut.

“Sudah mengerti?” tanyanya memastikan lagi.

“Iya, mengerti. Terima kasih banyak” jawab saya sungguh-sungguh. Mbak-nya bener-bener penyelamat deh, saya jadi terharu. Pengennya ngomong gitu tapi saya Cuma bilang terima kasih aja. hehe.

Dia kembali masuk ke counter-nya dan meracik kopi yang saya pesan. Beberapa menit kemudian dia menyerahkan caramel macchiato yang telah selesai dibuatnya. Setelah cup kecil tersebut habis saya kembali mengangkat backpack dan berjalan kembali menuju arah yang ditunjukkan si Barista. Ternyata arahnya menuju pintu keluar stasiun kereta dimana saya keluar tadi. Ternyata setelah pintu keluar kereta tersebut ada belokan ke kanan dan ternyata hotel saya hanya selemparan koin dari stasiun kereta. Aaaaghh… segala drama dan kesel saya gak bakal kejadian kalau saya fokus. Huh..hah… masih kesel dan gondok sama diri saya sendiri saya menuju pintu resepsionis hostel. Beberapa orang pemuda menyapa saya ketika berpapasan di pintu masuk. sesampainya di resepsionis sesosok pria ganteng yang mirip dengan 2AM-Jinwoon menyambut dengan senyuman manisnya. Ihiy… nampaknya Busan tidak terlalu bikin ilfeel seperti yang saya kira sebelumnya. :p

-Rie-

 

Related posts

One Thought to “Drama di Busan”

Leave a Comment