being the only girl when traveling, siapa takut??

Terkadang memang, saya berangkat traveling sendirian. Tapi tidak jarang juga saya traveling bareng temen-temen saya. Dan kebanyakan dari perjalanan saya, berangkat bersama temen-temen cowok saya. Alias saya cewek sendiri. Ada asiknya dan ada ga enaknya juga sich… nah, kali ini, saya akan nyeritain enak dan enggaknya being the only woman in the group when you’re travelling..

***_______________***
== Cemoro Lawang, 30 April 2010 ==

“Gimana nih tidurnya?” Tanya Yasir melihat kondisi kamar 5 X 5 di Losmen yang kami sewa.
“Mendingan kasurnya dijadiin satu aja” Usul Bagus menunjuk kedua kasur yang menempati masing-masing sisi kanan dan kiri ruangan.
“Emang tinggi kasurnya sama? Kan kasian yang di tengah nantinya kalo kasurnya disatuin” Kataku menimpali.
“Nah, kamu aja yang di tengah, Mbak” Sahut Wisnu sambil nyengir.
“Woo.. enak aja. Ga asik banget laaahh” Kataku lagi sambil membayangkan tidur di antara ranjang yang tingginya tidak sama dan ditengah-tengah 4 cowok ini. Bergidik aku memikirkannya.
“Udah, gini aja mendingan. Ntar kepalanya disini, madepnya kesana,jadi vertikal gitu. Biar ntar Mbak Rie posisinya horizontal” Timpal Bagus menengahi kami semua. Dimas dan Yasir yang bersandar pada pintu hanya bisa diam.
“Nah, aku setuju. Hehehe” kataku sambil tertawa.
“Waaahh… enak banget dirimu Mbak” sungut Wisnu.

Saya cuma tersenyum menanggapi celoteh keempat teman seperjalananku malam itu. Mereka berempat pun dengan tanggap menyatukan kedua ranjang yang ada di masing-masing sisi tersebut ke sisi kiri kamar losmen. Saya yang memang pada perjalanan kali itu merupakan cewek satu-satunya hanya memandangi para cowok menggeser dan membetulkan letak ranjang yang kelihatannya berat itu. Asiknya lagi, mereka tidak mengeluhkan saya yang emang tidak bantuin mereka (atau mereka ngoceh dalam hati ya), yang jelas malam itu saya kebagian tidur di bagian paling pinggir ranjang yang luasnya hampir satu ranjang berposisi horizontal, sedangkan keempat teman cowok saya itu menempati satu ranjang lagi berempat sekaligus dengan posisi vertical.
Malam itu memang kami baru saja tiba di Cemoro lawang, tempat transit para wisatawan yang bertujuan untuk menikmati wisata Gunung Bromo dan sekitarnya. Setelah menikmati bakso (yang tadinya panas) dan ngobrol-ngobrol sejenak sambil menikmati dinginnya cuaca malam itu, kami pun beranjak pergi ke tempat tidur agar dapat bangun awal esok harinya.
“Eh, kalian yakin gapapa tidur kaya pepes gitu?” Tanyaku sekali lagi untuk memastikan.
“Iya, Mbak. Gapapa, santai aja” Jawab Yasir
“Baiklah, selamat malam” kataku ga pake lama, soalnya takut mereka berubah pikiran. Hehehe…
Jadilah malam itu saya tidur dengan space paling luas, dan dengan selimut serta bantal yang diserahkan hanya untuk saya. Sedangkan teman-teman saya itu tidur dengan bantal dan selimut yang dibagi-bagi berempat. Maap ya teman, maksud hati ingin berbagi, tapi koq saya malah ga tega kalo harus berbagi dengan kalian. Hihihihi…

==Kaki Gunung Bromo, 1 Mei 2010==

Sedikit pusing juga menghirup udara solar yang bercampur dengan asap jeep pagi itu. Kebetulan memang saat itu saya kebagian duduk di belakang jok pengemudi. Dan entah kenapa, hanya hidung saya yang emang terlalu sensitif bisa merasakan bau solar dari jeep yang membawa kami dari Pananjakan ke Bromo tersebut.
Turun dari Jeep saya langsung bernapas lega, yah paling tidak bisa terbebas sejenak dari bau solar tersebut sampai nanti ketika jeep itu mengantar kami ke losmen.
Hamparan pasir membentang di hadapan kami, keempat cowok yang jadi partner seperjalanan saya kali itu langsung mengabadikan setiap momen yang terjadi dengan aneka kamera, mulai dari kamera handphone, holga sampe kamera digital (sayangnya ga ada yang punya SLR untuk mengabadikan momen-momen ini). Setelah puas foto-foto, berjalanlah kami menuju puncak kawah bromo. Jalan yang kami lalui bagaikan sebuah gurun pasir yang membentang indah di hadapan. Sesekali para turis baik asing maupun local melewati kami dengan mengendarai kuda. Sebenernya, pengen juga sich saya nyobain berkuda di bromo, kapan lagi yak an? Tapi karena dana pas-pasan dan juga ga mau dibilang payah oleh ke empat cowok ini, jadilah saya jalan kaki juga dari turun jeep sampe ke atas.
Beberapa saat berlalu, jalan yang tadinya landai jadi semakin menanjak. Saya yang emang udah jarang banget olahraga mulai ngos-ngosan dan memperlambat langkah. Namun, karena tidak sadar atau emang sudah bawaan lahir, para cowok itu tidak memelankan langkah nya sedikit pun, akhirnya saya tertatih-tatih mencoba mengimbangi langkah cowok-cowok itu. Fiiuuuhhh… di tengah-tengah usaha mengimbangi mereka, beberapa penyewa kuda menyapa
“Mbak, naik kuda sampai atas? Murah koq”
“Dibantu naik kuda yuk, Mbak. Cuma 10 ribu koq sampai tangga..”
“Kuda, Mbak..Kuda..”
Awalnya sich rasanya biasa aja, tapi koq lama-lama saya jadi keki sendiri. Padahal saat itu kami itu berlima, walaupun temen-temen saya itu berjarak beberapa langkah di depan. Tapi koq yang ditawarin kuda Cuma saya sich. Saya jadi mulai sewot.
“Sir, emangnya gw keliatan lemah banget ya. Koq perasaan daritadi Cuma gw doing yang ditawarin naik kuda? Kalian koq engga si?” kataku sewot
“hehehe…. Engga tau mbak, mereka kan niatnya nawarin” Jawab yasir sambil nyengir-nyengir (dan sampai saat ini saya masih bertanya-tanya arti cengirannya saat itu)
“Tapi harusnya kalo nawarin tuh yang adil keq, kan ada kalian juga. Tapi kalian ga ditawarin.” Kataku tak mau kalah
“Wah kalo itu mah, aku ga tau, Mbak” Yasir akhirnya menyebutkan kalimat finalnya.
“Wooo… asal kamu tau yah, aku tuh masih kuat jalan sampai atas tau” saya masih tak mau kalah, dan perkataan saya hanya di jawab oleh cengiran oleh Yasir.
Akhirnya setelah perjuangan panjang, sampai juga kami serombongan di tangga menuju puncak. Saya yang saat itu sampai paling belakang berhenti sejenak untuk mengatur napas yang masih ngos-ngosan.
“Fiuuuuhhh… capeeeeekkkk…” teriakku
Brrrrrr…..ngggeeeeekkkkk….
Kuda yang kebetulan saat itu sedang nge-tem di samping kami meringkik ketika saya selesai mengucapkan keluhan tadi. Spontan, keempat teman saya tersebut tertawa.
“Tuh Mbak, diledekin tuh sama kudanya. Dia aja ga cape katanya” Kata Dimas mengejek saya
“Huh.. sok tau ah..” jawabku menahan geram dan malu.
“Dasar cowok-cowok ga pengertian” gerutuku dalam hati.
Puas berfoto-foto di bawah tangga, kami pun bersiap naik 250 anak tangga yang akan mengantarkan kami ke puncak. Yasir dengan gayanya menyetel stopwatch lalu langsung melesat ke atas sambil berlari. Wisnu menyalakan kameranya untuk merekam momen tersebut sambil terus berjalan ke atas. Sedangkan Bagus dan Dimas naik bersamaan sambil menghitung anak tangga yang dinaiki itu, dan lagi-lagi saya tertinggal belakangan.
Mau nyerah koq “ga gue banget”, mau terus koq “capeknya pol”. Okelah, dengan semangat yang udah ikutan ngos-ngosan, saya naik juga melewati 250 anak tangga tersebut dan tiba paling akhir(lagi). Tapi sesampainya di puncak Bromo, kelelahan menaiki anak tangga tersebut hilang seketika. Pemandangan hamparan pasir di bawah dan cekungan kawah yang menakjubkan seakan dapat membuat saya melupakan kejadian yang bikin sewot sepanjang perjalanan menuju ke puncak ini.
“Subhanallah…” Cuma itu yang keluar saat itu untuk menggambarkan keindahan pemandangan di Puncak Gunung Bromo.
“Ternyata lebih bagus aslinya daripada yang ada di TV yah” Kata Dimas.
“Keren banget” Sambung Wisnu
“Coba kampus kita dipindah kesini, bakal tambah pinter deh mahasiswanya” Kata Dimas lagi.
“ngaco, apa hubungannya?” kataku geli
“Kan fresh terus, jadi belajarnya bisa masuk ke kepala dengan mudah” jawab Dimas dengan muka serius. Saya jadi tidak tega untuk menyahuti jawabannya itu.
Menit demi menit pun berlalu, kami menikmati keindahan pemandangan dari Puncak Gunung Bromo. Pemandangan yang sangat menakjubkan. Ingin hati terus di sini, tapi apa daya waktu juga yang mengharuskan kami untuk turun dan kembali ke hotel untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya.

==Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Wonosobo ==

Keindahan Kompleks Candi Arjuna itu lengkap sudah, dikelilingi taman yang luar biasa indah berselimutkan sedikit kabut dengan cuaca sedikit gerimis. Sore itu, saya dan kelima teman seperjalanan saya kali itu memutuskan untuk menjadikan kompleks Candi Arjuna sebagai tempat pertama yang kami datangi di Dataran Tinggi Dieng. Konon katanya, Kompleks Candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng ini adalah Kompleks Candi tertua yang ada di Pulau Jawa, dan Kompleks Candi Arjuna menempati posisi paling selatan dibandingkan dengan kompleks candi-candi yang lain yang ada di daerah Dataran Tinggi Dieng ini.
Alasan kami sendiri mengunjungi kompleks candi ini sebagai objek pertama yang kami tuju sebenarnya sangat sederhana, karena Kompleks Candi Arjuna merupakan candi yang paling dekat dengan Wisma tempat kami menginap, akhirnya sesudah mendapatkan tempat penginapan dan juga makan siang, akhirnya kami pun melesat menuju kompleks Candi Arjuna tersebut.
Foto-foto nampaknya jadi agenda wajib setiap kali perjalanan. Maklum, saya hobi foto-foto dan juga di foto. Hehehe.. dan nampaknya kelima cowok-cowok yang travelling bersama saya kali ini juga sangat suka di foto.
Puas mencoba berbagai gaya, kami berjalan mengelilingi kompleks candi yang sangat menakjubkan. Warna hijau dedaunan seakan menyatu dengan berbagai warna lain yang dipancarkan dari bunga-bunga yang menggantung di dahannya dihiasi kabut tipis di sekitar saya, rasanya seperti berada di negara lain.
Ketika sedang asik memanikmati indahnya kompleks candi, hasrat tak tertahankan akibat udara yang dingin itu datang juga.
“Gus…gus… sini deh” Saya memanggil Bagus yang sedang sibuk bertanya kepada penjual bunga edelwise yang menjajakan jualannya di lingkungan kompleks candi tersebut.
“Kenapa?” Tanya Bagus tanpa memalingkan wajahnya dari bunga-bunga abadi tersebut.
“Sini laaaaahhhh….” Kataku mulai tak sabar
“Apa sich?” akhirnya dia menghampiri saya juga.
“Aku pengen ke kamar mandi. hehehe” kataku sambil nyengir
“waelah, kirain kenapa. Udah ga tahan po?” Tanya Bagus dengan tampangnya yang polos.
“Iya, WC nya kan jauh, Gus. Ayo anterin” Kataku memelas
“Yo..iyo, ku anterin” Akhirnya dia pun mengalah untuk mengantarkanku ke WC yang ada di dekat pintu gerbang kompleks candi Arjuna tersebut.
Akhirnya setelah selesai berurusan dengan WC itu, kami pun harus kembali ke hotel karena matahari sudah mulai menghilang dari pandangan. Yah, Kompleks Candi di Dataran Tinggi Dieng, merupakan salah satu dari tempat menakjubkan yang pernah saya lihat.

**_____________**

Nah, dari ketiga cerita di atas, bisa diihat kan enak dan ga enak nya jadi cewek sendirian pas jalan-jalan. Walaupun saya tidak menuliskan semua pengalaman saya, tapi bisa diambil kesimpulan(versi saya), kalo jadi cewek satu-satunya pas traveling dapat memberi sebuah pelajaran tersendiri untuk pertumbuhan saya ke depannya.

Ini dia kesimpulannya

Ga enaknya :

1. Kita harus ngimbangin langkah cowok yang biasanya emang lebar dan panjang. Kalo engga, siap-siap untuk tertinggal di belakang, dan pastinya siap-siap untuk ngos-ngosan.
2. Selalu siap untuk jadi bahan becandaan dari para cowok, terutama kalo jalan sama cowok yang susah untuk serius
3. Terkadang sering di under estimate-kan karena banyaknya stigma perempuan identik dengan kaum lemah.

Enaknya :

1. Bisa dapet tempat tidur paling luas, selimut dan bantal yang tidak terbagi-bagi 
2. Kalo mau kemana-mana tinggal bilang, pasti ditemenin.
3. Serasa punya pengawal pribadi yang selalu siap melindungi kapanpun.
4. Selalu didahuluin kalo mau ngapa-ngapain, mau makan, mau naik angkot, naik kereta, dan lain-lain

Naaaahhh… itu versi saya mengenai enak dan ga enaknya jadi satu-satunya perempuan dalam rombongan ketika travelling. Yaaahhh… masing-masing orang beda-beda sich pengalamannya.

Dan menurut saya, banyakan enaknya daripada ga enaknya kalo jalan-jalan bareng cowok. Entah karena emang saya sedikit kecowok-cowokan atau emang karena temen-temen cowok yang sering bareng saya memang orang-orang yang menyenangkan ya? Hehehe….

so, being the only girl in a group when you traveling, siapa takut? 🙂

Related posts

10 Thoughts to “being the only girl when traveling, siapa takut??”

  1. wkwkwkwk….hm…so far so good….enjoy enjoy aja tuh jalan ama coowk2….woe,,,di dieng naik gunung si kunir juga liat sun rise…:D_Arni

  2. "Entah karena emang saya sedikit kecowok-cowokan atau emang karena…"Itu nyadar apa pura-pura ga tau

  3. "Bisa dapet tempat tidur paling luas, selimut dan bantal yang tidak terbagi-bagi" <– ini dia nih yang memaksa kaum lelaki hahahahapict nya dong gan… hehehe

  4. @Arni: wokey gan 🙂 dieng emang mantabh jaya, kapan-kapan kesana lagi aahhh :D@Heru: wogh… itu nyadar, tapi kan ada beberapa faktor disana.. :p@samid: memaksa apaan niii?? :p pict nya nyusul aja deh, lagian di postinganmu tentang bromo juga udah banyak banget pic nya 😀

  5. waktu aku yang jadi cowok sendiri juga enak tau 😛 kmu ma rini tidurnya seranjang berdua 😛 mau disatuin juga enggak hahaha.. aku mah merdeka tidurnya #hepi.. hehehe -WiDiW-

  6. EKSPLOITASI LELAKI!!!! Hahahahahaha..

  7. @Kang Iyos: kalo dipikir-pikir sekilas memang begitu.. hahahahahaha :ngakakhmm… tapi ga mutlak begitu juga aahhh.. :p

Leave a Comment