Antara naik ojek, jalan kaki atau naik minibus??

Bromo, transportasi ke bromo, angkutan ke bromo, angkutan bromo cemoro lawang, jeep ke bromo

Sore sudah lewat, kami berlima terduduk di trotoar sambil memikirkan strategy untuk dapat ke puncak cemoro lawang.

“Piye ki? Ga bisa ditawar lagi po?” tanya wisnu
“ Katanya mentok segitu, soale dia cuma ngangkut kita berlima. Biayanya ga nutup kalo kita cuma bayar segitu” Jelas Bagus

Perjalanan saya, Dimas, Bagus, Wisnu dan Yasir seolah baru dimulai. Sore itu, kami masih terduduk di sekitar terminal probolinggo untuk mendapatkan angkutan menuju puncak. Budget yang telah kami siapkan ternyata sedikit mentok di tawar menawar harga ongkos angkutan minibus ini karena seidkit melebihi budget yang diperkirakan.

“ya udah, coba aku yang nawar” akhirnya Wisnu mengajukan diri untuk jadi penawar yang kedua setelah Bagus dan Yasir gagal pada percobaan pertama, sementara saya dan Dimas dengan nyantai duduk mengamati sekitar sambil makan biskuit.

“Gimana kalo kita naik ojek aja?” usul saya ngasal
“Jauh ga si?” tambah saya lagi.
“Atau jalan kaki wae, hehehehe” tawaran dari Bagus tambah ngasal.
“Kata Bapaknya si tadi jauh” Sahut Yasir
“Kalo jauh, bisa nyampe besok pagi kita.” Tambah Dimas.
“Mending, kalo sampe pingsan di jalan karena kejauhan gimana? Hehehe” tambah saya.
“Kalo sampe bayar segitu, ngepas banget aku ki, terancam ga pulang nanti” celetuk Dimas.

Maklum saja, perjalanan kami menuju Bromo saat itu bermodalkan budget yang sudah dirancang seirit mungkin sebelumnya, jadi kebanyakan dari kami membawa uang yang ngepas dalam perjalanan kilat ini.
Beberapa saat kemudian, Wisnu datang ke tempat kami dengan muka lempeng, lalu tersenyum kecut setelah tiba di tempat kami duduk.

“ra iso” katanya singkat.

Kata-kata singkat tersebut membuat suasana sediki hening. Kami berlima terdiam cukup lama. Entah karena capek setelah menempuh perjalanan belasan jam menggunakan kereta keramat “Sri Tanjung”, entah karena ngantuk karena hari sudah mulai malam atau karena memikirkan budget yang sedikit melampaui anggaran. Pikiran-pikiran untuk menggunakan alternatif ojek atau jalan kaki mulai menari-nari di otak.
Tapi sudah sampai Probolinggo gitu loh, masa balik lagi karena gini doank, ga lucu amat, batinku

“Coba deh gw yang nawar” akhirnya kataku memecahkan keheningan.
“Iya Mbak, mungkin aja kalo Mbak yang nawar harganya bisa turun. Kan cewek yang nawar. hehehe” kata Wisnu ngasal. Sementara Dimas dan Yasir asyik mengunyah biskuit. Bagus cuma nyengir menyemangati sambil ngangguk-ngangguk.
“Ga ngaruh kali” kata saya sambil melenggang ke tempat para supir angkutan itu seorang diri.

“Pak sampai atas berapa ya?” Tanya saya, si Bapak menyebutkan jumlah yang sama seperti yang telah disebutkan Bagus dan Wisnu.
“Ga bisa turun ya Pak? Turunin dikit donk harganya” pinta saya memelas.
“Wah, ga bisa Mbak. Soalnya ini juga sudah harga standar, biasanya juga segitu. Solar juga lagi mahal, Mbak” kata si Bapak lagi.
“jauh ya Pak dari sini ke Cemoro Lawang?” tanyaku lagi pada si Supir.
“Jauh Mbak. Kalau mobil atau motor yang ga biasa ke sana bisa repot, jalannya juga muter-muter gelap lagi kalau sudah malam begini.” Jelas si Bapak.

Saya berpikir cukup lama di depan Bapak supir yang kini asyik menyeruput kopi dari cangkir yang ada di depannya.
“Ya udah, Pak. Saya bayar segitu, tapi Bapak jangan bilang sama temen-temen saya kalau harganya segitu ya. Bapak bilang aja harganya turun seperti yang sudah ditawar tadi, nanti sisanya saya aja yang bayar. Ntar kalau mereka tahu, jadi ga enak lagi. budget kita ngepas soalnya.Oke Pak?” Kata Saya.
“Oke, ayo langsung berangkat kalau begitu” Kata Si Bapak sambil bangkit dari tempat duduknya.

Saya pun kembali ke tempat empat orang rekan saya, mereka menatap penuh harap, saya cuma nyengir sambil bilang, “Ayo berangkat”
Sejurus tatapan mereka langsung berubah heran dan terbengong-bengong.
“Ko bisa Rie?” tanya Bagus
“Eh serius kita bayar berapa?” tanya Dimas.
“Bayar yang sesuai yang ditawar tadi” jawab saya
“Serius? Bapaknya ko mau pas kamu yang nawar si? Kamu apain, Mbak?” tanya Wisnu.
“bawel ah, ayo berangkat” ajak saya sambil berjalan menuju mobil yang sudah siap mengangkut kami.
“Kayanya abangnya itu dikedipin nih sama Mbak Rie” celetuk Yasir.
Saya cuma nyengir-nyengir.

Beberapa saat kemudian kami sudah berada di dalam minibus yang berjalan menuju Cemoro Lawang, dan saya bersyukur kami ga jadi nekat naik ojek ataupun jalan kaki seperti pikiran aneh yang telah kami celotehkan sebelumnya, karena jalanan menuju cemoro lawang mencapai 45 menit, menanjak dan berkelok-kelok gelap pula. lengkap.

Walaupun malam itu sepanjang perjalanan menuju Cemoro Lawang minim penerangan, namun bulan purnama dan ratusan bintang di langit nampak indah menemani perjalanan kami. Tak sabar rasannya esok hari untuk melihat cantiknya Bromo dan mentari pagi.

Ceritanya si, tulisan ini semacam pengakuan dosa untuk ke empat rekan perjalanan saya sewaktu menuju Bromo. Maaf ya kalau waktu itu saya ga jujur sama kalian.. heeeeuuuuu….

Tapi pelajaran lain yang bisa diambil pada perjalanan ini adalah, selalu siapkan dana cadangan ketika bepergian, karena kita ga akan pernah tau apa yang dapat terjadi nantinya di sepanjang perjalanan.

Selalu ada pelajaran di setiap perjalanan.
Mari jalan-jalan 🙂
-Rie-

Related posts

2 Thoughts to “Antara naik ojek, jalan kaki atau naik minibus??”

  1. wisnu

    hahahaha…keciri ya, yang paling bawel siapa di situ hahaha…

    1. hahahha…. gimana yaaaa??? :p

Leave a Comment